Has Kea ubah sampah plastik jadi sapu (Foto: REUTERS/Chantha Lach)
Seorang Pengusaha Kamboja Has Kea (41) berhasil mengubah sampah plastik menjadi alat berguna untuk membersihkan rumah. Kok bisa?
Di sebuah gudang kecil di ibu kota Kamboja, sekelompok pekerja membuat karya nyata yang berdampak baik bagi lingkungan, dengan memanfaatkan sampah plastik.
Mereka duduk dan memintal botol plastik bekas menjadi potongan-potongan, mengubahnya menjadi bulu sapu, sampai menghasilkan 500 sapu setiap harinya.
Para pekerja di tempat tersebut, mengolah berton-ton botol plastik menjadi bulu sapu. Sejak Maret 2023 mereka telah mendaur ulang sekitar 40 ton botol plastik yang dibuang.
Melansir dari Reuters, setiap harinya ada sekitar 5.000 botol plastik yang didaur ulang menjadi sapu yang dinilai punya daya tahan lebih kuat daripada sapu pada umumnya.
“Sejauh ini kami telah menggunakan sekitar 40 ton botol plastik. Jadi itu adalah jumlah daur ulang yang cukup besar untuk membuat sapu lidi yang sangat tahan lama dan dapat digunakan untuk waktu yang lama,” ujar Has Kea, dikutip Senin (19/2).

(Foto: REUTERS/Chantha Lach)
Cara Membuat Sapu dari Plastik
Untuk membuat sapu dari plastik, Has Kea perlu mengumpulkan banyak botol plastik terlebih dahulu. Dirinya membeli botol plastik kosong dari para pengumpul sampah dan depo sampah.
Sejalan dengan pasokan sampah plastik yang tampaknya tak ada habisnya, Has Kea yakin akan keberlangsungan bisnisnya.
Botol plastik yang sudah dikumpulkan tersebut, kemudian dipotong menjadi bagian kecil dan dikumpulkan menjadi satu bundel.
Selanjutnya, potongan plastik tersebut direndam dalam air panas untuk agar teksturnya lebih lembut, untuk kemudian diiris menjadi potongan-potongan dan dijahit ke batang bambu dengan kawat logam.

(Foto: REUTERS/Chantha Lach)
Menghasilkan Banyak Sampah
Upaya daur ulang sampah, dilakukan Has Kea untuk mengurangi polusi sampah plastik di komunitasnya. Berdasarkan data dari departemen lingkungan Phnom Penh, setiap harinya kota ini menghasilkan setidaknya 35.000-38.000 ton sampah dari beragam jenis.
Sekitar seperlima dari jumlah tersebut, adalah plastik sekali pakai yang berakhir di tempat pembuangan sampah dan saluran air.
“Sapu ini cukup kokoh, tidak mudah patah,” kata Suon Kosal, seorang biksu berusia 26 tahun yang kuilnya membeli 80 sapu bulan lalu.
Sapu-sapu yang dibuat Has Kea, dijual dengan harga 10.000 riel (sekitar Rp39.000 asumsi kurs Rp15.628) sampai 15.000 riel Rp58.607).
Has Kea menyadari, bahwa harga botol plastik dalam negeri jauh lebih murah, bersama dengan biaya bahan baku lainnya (seperti batang bambu) dan biaya tenaga kerja.
“Jadi saya memutuskan untuk membuatnya hanya dengan mendesain bentuk sapu yang terlihat bagus,” kata Has Kea.
Tidak hanya pembeli, Has Kea sendiri sebagai produsen juga merasa senang karena upayanya bisa bermanfaat bagi masyarakat.
“Hal ini membantu mengurangi polusi pada lingkungan, serta mendorong orang untuk mengumpulkan botol plastik untuk dijual kepada kami dengan harga yang lebih tinggi. Pada gilirannya, kebiasaan ini dapat memberi mereka kehidupan yang lebih baik,” tutup Has Kea.
Simak Video Pilihan di Bawah Ini:

