Penulis : Akbar Fauzi
Editor : Grace Kolin
Paus merupakan jenis mamalia laut yang selalu hidup berkelompok. Satu kelompok paus bisa terdiri dari 6 sampai 10 ekor paus. Tidak seperti manusia, mamalia ini berkomunikasi dengan cara mengeluarkan gelombang infrasonik dengan frekuensi tertentu yang disebut dengan sistem sonar. Suara yang dikeluakan paus kerap bernada seperti nyanyian, sehingga sering disebut sebagai nyanyian paus. Normalnya, suara nyanyian paus berkisar pada frekuensi 12 sampai 15Hz.
Namun, ada fenomena paus yang bisa menghasilkan nyanyian dengan frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi nyanyian paus normal. Ialah Paus 52Hz atau yang dijuluki dengan Whalien 52. Fenomena paus ini pertama kali ditemukan keberadaannya oleh William Watkins, seorang peneliti biota laut dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI) pada tahun 1989.
Alih-alih menguntungkan, memiliki frekuensi nyanyian yang yang lebih tinggi dari frekuensi nyanyian paus normal justru menjadi kisah yang memilukan bagi Whalien 52, karena tidak ada satu pun paus yang mampu mendengar ataupun merespon suara paus yang abnormal ini. Selama ini, frekuensi nyanyian Whalien 52 hanya dapat ditangkap oleh radio sonar kapal laut dan kapal selam. Dan semenjak itu, paus ini juga disebut dengan The Loneliest Whale in The World atau paus yang paling kesepian di dunia.
Pada tahun 2004, penelitian tentang Whalien 52 yang dilakukan Watkins dan timnya melalui jurnal Deep Sea Research menarik perhatian publik. Karena kondisinya tersebut, masyarakat menjadikan Whalien 52 ikon dari pengasingan. Bagaimana ia merasa terasing dari dunianya sendiri dan menjalani hidup sendiri karena berbeda dari paus lainnya.
Meski nyanyiannya dapat terdeteksi oleh manusia, namun hingga saat ini, Whalien 52 masih menjadi misteri karena keberadaannya belum pernah ditemukan. Pada 2015, para peneliti melakukan segala cara untuk menemukan atau meneliti kembali Whalien 52 di Samudra Pasifik. Mereka memasang mesin yang dapat memberi dan menerima frekuensi sebesar 52 Hertz dari Whalien 52. Namun hingga sekarang, belum ada respon sama sekali dari Whalien 52.
Keberadaan Whalien 52 yang erat dikaitkan dengan rasa kesepian, menginspirasi banyak musisi dan penulis untuk membuat karya tentang Whalien 52. Contohnya BTS (grup vokal asal Korea Selatan), Dalmatian Rex and the Eigentone (band rock asal Inggris) dan penulis asal Jerman, Agnieszka Jurek. Terlepas dari apakah mamalia ini sudah mati atau masih hidup dalam kesendiriannya di tengah luasnya Samudra, kisahnya telah banyak menginspirasi orang yang merasa kesepian.

