Kaligrafi Tiongkok

Peresmian jalan aspal plastik (Foto: Situs web Portal Jabar)

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut bersama dengan PT Chandra Astri baru saja meresmikan pembangunan jalan aspal dengan campuran sampah plastik. Apa kelebihannya?

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut Nurdin Yana meresmikan jalan aspal plastik sepanjang 50 km di area Simpang Lima, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Kamis (7/3/2024).

Sekda Garut mengungkapkan, sejak dulu Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemdakab) Garut telah bekerja sama dengan PT Chandra Asri, mengenai penggunaan aspal plastik untuk pembangunan jalan.

Mengutip dari situs web Portal Jabar, Nurdin menjelaskan bahwa hal ini sangat baik dilakukan, mengingat produksi sampah di Kabupaten Garut sangat banyak.

“Saya kira hal yang sangat positif dari proses ini, adalah pertama menyangkut masalah pemanfaatan plastik sampah, di mana konotasi plastiknya itu yang menjadi persoalan kita karena hari ini kita hampir 100 ton kan per hari,” ujar Nurdin dikutip dalam keterangannya, Rabu (13/3).

 

Bisa Mengurangi Sampah

Menurut Nurdin, jika hal ini terus dilakukan maka Kabupaten Garut bisa mereduksi jumlah sampah yang ada. Nurdin memperkirakan, jika 1 ton sampah dikonversi plastiknya untuk 3-4 km jalan, maka akan banyak sekali sampah yang tereduksi.

Selain mereduksi sampah, kata Nurdin, penggunaan aspal plastik ini juga akan meningkatkan kekuatan aspal sekitar 40%, sehingga dapat bertahan lebih lama dibanding aspal biasanya.

Ia memaparkan, bahwa saat ini ada hal yang harus menjadi perhatian terkait mekanisme bank sampah yang mana masyarakat nantinya akan diminta untuk melakukan pemilahan sampah mulai dari non plastik, plastik, dan yang lainnya.

“Makanya juga kemarin pemanfaatan ini juga kita minta ke (Bakti) Barito agar mereka bisa menginisiasi, sekaligus juga untuk memprakarsai adanya bank sampah yang hari ini memang masih tersebar tidak secara terkonsep gitu ya,” kata Nurdin.

(Pengaspalan di kawasan alun-alun Garut. Foto: Tribun Jabar)

 

Penggunaan Sampah Plastik

Di sisi lain, Circular Economy & Partnership Manager Chandra Asri Nicko Setyabudi mengungkapkan, pengunaan aspal plastik ini bermula dari riset Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) yang cukup baik.

Maka dari itu, pihaknya berinisiatif untuk mencoba melaksanakan pembangunan jalan menggunakan aspal plastik sepanjang 100 km dengan berbagai mitra selama 5 tahun terakhir.

“Garut ini merupakan salah satu mitra yang komitmennya sangat luar biasa, ya, berkomitmen untuk melakukan penggelaran sepanjang 50 km dalam 2 tahun dan sudah bisa dilihat hasilnya di lapangan,” jelasnya.

Menurut Nicko, berdasarkan riset Kementerian PUPR RI, disebutkan bahwa adanya stabilitas jalan sebanyak 40% persen, sehingga berdampak pada usia pakai pada jalan itu sendiri.

“Tapi perlu dicatat ketahanan jalan itu dipengaruhi oleh desain jalan itu sendiri, harus didukung dengan insfrastruktur kanan-kirinya ada gorong-gorong yang baik dan seterusnya akan membuat fungsi aspal bisa maksimal,” katanya.

Ia menambahkan, bahwa 50 KM jalan di Kabupaten Garut yang akan dibangun menggunakan aspal plastik tersebar di beberapa titik.

Berdasarkan arahan dari Kementerian PUPR RI, penggunaan aspal plastik ini memang diperuntukkan bagi jalan perkotaan bukan jalan tol karena mempunyai spesifikasi yang berbeda.

“Jadi kurang lebih sesuai dengan petunjuk PUPR penggunaannya 4%-6% dari aspal yang digunakan untuk jalan. Jadi artinya kalau kita buat simulasi secara kasar dalam satu ton campuran aspal, kurang lebih ada 3 kg sampah plastik dari kantong kresek,” lanjutnya.

 

Jenis Plastik yang Dipakai

Kepala Dinas PUPR Kabupaten Garut Agus Ismail menggarisbawahi, bahwa penggunaan aspal plastik ini menggunakan jenis plastik kresek yang selama ini sering terabaikan.

“Tapi sampah plastik itu, kan, kresek itu, kan, dianggap yang paling murah, sehingga tidak banyak dilirik oleh didaur ulang. Nah, ini dua hal yang saatnya kita terus dapat dorong,” kata Agus.

Meskipun demikian, imbuh Agis, melalui penggunaan aspal plastik ini terdapat biaya penambahan untuk setiap produksi aspal yang digunakan.

“Yang sedang kita (dorong) bagaimana kemudian kolaborasi ini kan multisektor (terkait) penanganan lingkungan. Cuma sejauh mana tadi masyarakat pengumpul-pengumpul sampah ini, makanya LH bisa mengembangkan dengan bank sampah tadi,” tutup Agus.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: