Penulis : Akbar Fauzi
Editor : Grace Kolin
Otak manusia dikenal dengan salah satu fungsi pentingnya, yaitu mengingat. Namun, tahukah Anda? Selain otak, otot juga memiliki fungsi dan mampu mengingat sesuatu hal. Istilah “otot dapat mengingat” ini dikenal dengan muscle memory atau memori otot. Mengutip dari Oxford Languages, muscle memory merupakan kemampuan otot untuk memproduksi gerakan tertentu tanpa pikiran sadar yang diperoleh sebagai hasil dari banyaknya gerakan yang dilakukan berulang-ulang.
Ini juga yang menjadi penjelasan mengapa seseorang bisa jago mengetik tanpa melihat ke layar atau papan ketik sama sekali. Dilansir dari hellosehat.com cara kerja memori otot ini telah dibuktikan dalam sebuah penelitian dalam jurnal Attention, Perpection & Physcophysics. Pada penelitian tersebut, para pakar menguji ratusan orang yang sehari-harinya terbiasa mengetik. Peserta penelitian diminta untuk mengisi kertas kosong dengan urutan huruf alfabet sesuai dengan posisinya di depan papan ketik.
Ternyata, rata-rata peserta penelitian hanya bisa mengingat 15 huruf dengan benar. Ini membuktikan bahwa mengetik merupakan pekerjaan kinetik, bukan visual, karena seseorang tidak mengetik dengan memori yang direkam oleh mata melainkan dengan otot yang merekam informasi ke dalam memori jangka panjangnya.
Contoh lain dari memiliki muscle memory yaitu seorang penari yang mampu melakukan banyak gerakan selama satu sesi, jemari musisi yang piawai menekan tuts piano dalam lagu bertempo cepat sekalipun, dan gerakan yang dilakukan oleh pelaku martials arts (seni bela diri). Semakin sering seseorang melakukan suatu gerakan atau berlatih maka memori tentang cara melakukannya pun akan semakin tajam. Malcolm Gladwell dalam laman merdeka.com mengatakan bahwa untuk mendapatkan muscle memory membutuhkan waktu sekitar 10.000 jam untuk menguasai suatu keterampilan.
Ada beberapa manfaat dari muscle memory dalam keseharian, yaitu mememungkinkan seseorang untuk membangun dan mendapatkan kembali ukuran, kekuatan dan massa ototnya lebih cepat. Selain itu, mengurangi potensi untuk cedera, gerakan menjadi semakin lihai, melindungi diri dan berpeluang belajar gerakan baru. Fenomena ini menjadi jawaban mengapa seseorang tak perlu berupaya melakukan sesuatu hal terlalu keras karena ada semacam formula yang diingat oleh tubuh dan ontot sehingga mampu bergerak secara otomatis.

