Kaligrafi Tiongkok

Abdullah Mudzakir siswa SMKN 8 Semarang yang berhasil temukan bug di Google

Salah satu risiko yang kerap dihadapi oleh penyedia layanan digital adalah munculnya bug program. Bug dalam sebuah program digital bisa mengganggu kenyamanan pengguna program.

Nama Abdullah Mudzakir (18) belakangan ini menjadi sorotan warganet karena berhasil menemukan bug di dalam sistem Google LLC.

Bug adalah kecacatan atau kerusakan teknis dalam sebuah sistem yang dapat menyebabkan program atau aplikasi tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Abdullah yang merupakan seorang siswa jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) di SMKN 8 Semarang ini menjelaskan, pada tahun 2021 lalu sedang ada sayembara menemukan bug di Google. Nantinya, peserta yang berhasil menemukan bug akan diberikan imbalan.

Abdullah mengatakan, awalnya ia mendapatkan tantangan dari mentornya untuk meretas sistem keamanan Google.

“Sebelumnya juga sudah pernah hack perusahaan lain di Indonesia, lalu ada tantangan untuk hack Google,” ujar Abdullah dalam tayangan video detik Pagi, dikutip Rabu (8/3).

Meski demikian, upayanya tidak langsung berhasil. Abdullah mengaku, sebelumnya ia telah beberapa kali melaporkan bug ke Google, tetapi semua laporannya ditolak.

“Lalu saat percobaan kelima, kami menemukan bug yang berbeda, ini kategorinya bug abuse,” lanjutnya.

Saat itu, kata Abdullah, pihak Google belum terlalu memahami bug jenis terbaru ini karena belum pernah ada contoh kasus untuk mendukung penyelesaiannya.

Abdullah pun berdebat dengan pihak Google untuk menemukan penyelesaian masalah bug tersebut. Saat laporannya ditolak, Abdullah mengajukan banding lebih lanjut dengan membuat video detail terkait penemuan bug tersebut di sistem Google.

Setelah berdebat hampir setengah bulan, akhirnya pihak Google menerima laporan Abdullah dan memberikan imbalan berupa uang sebesar USD5.000 (sekitar Rp77 juta asumsi kurs Rp15.452).

Perjuangan Abdullah tidaklah instan. Abdullah bercerita, sebelum terjun ke dunia hacking, awalnya ia belajar programming dan networking, tetapi ia merasa tak cocok. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk menekuni bidang hacking.

“Kalau mau belajar hacking harus tahu dasar-dasar programming dan networking. Nah, kebetulan saya sudah dapat basic-nya, jadi lebih mudah memahami cara kerjanya. Lalu, saya lanjut belajar otodidak sendiri, sampai masuk komunitas Riskan Security di Salatiga,” jelas Abdullah.

Abdullah banyak belajar sistem peretasan menggunakan laptop milik kakaknya. Diketahui, ternyata laptop tersebut dibeli menggunakan sistem kredit karena orang tua Abdullah belum mampu untuk membeli laptop secara lunas.

Kendala lain yang dihadapi Abdullah, adalah minimnya jaringan internet yang tersedia di rumah.

Untuk menunjang kegiatan belajarnya, Abdullah pun rela pergi ke angkringan setiap hari hanya untuk mendapatkan jaringan WiFi.

Perjuangan Abdullah pun mulai terbayar karena ia semakin menguasai bidang hacking. Ke depannya, Abdullah bertekad untuk terus mengembangkan kemampuannya dan membuat perusahaan sendiri.

“Cita-cita sebenarnya dari kecil mau jadi kiai seperti ayah. Cuma sekarang lebih tertarik untuk punya perusahaan sendiri,” tutup Abdullah.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: