Sumber Gambar : NHK WORLD-JAPAN
Penulis : Grace Kolin
Negara Jepang memiliki musim hujan yang panjang, yaitu mulai dari akhir Mei sampai pertengahan Juli. Dalam menghadapi musim ini, sebagian besar masyarakat Jepang menggunakan payung agar mereka tidak terkena air hujan.
Melansir dari NHK WORLD-JAPAN ada sekitar 120 juta payung yang digunakan di Jepang setiap tahunnya. Dari 120 juta, 80 juta diantaranya adalah biniiru-gasa, payung yang terbuat dari plastik dan memiliki harga yang murah. Payung ini dijual di hampir setiap toko serba-ada di Jepang.
Karena mudah didapatkan, sebagian orang kerap membuang biniiru-gasa dengan mudahnya, tanpa berpikir panjang. Padahal, payung ini sulit untuk dihancurkan dan didaur ulang. Sehingga pembuangan massal dari payung plastik ini menjadi isu sosial yang serius.
Saito Aki, seorang warga Tokyo berinisiatif memberikan ‘kehidupan kedua’ pada limbah biniiru-gasa. Ia mendaur ulang limbah payung ini menjadi tas tangan (handbag). Ia membuat tas tangan ini dengan cara memisahkan plastik transparan dari tulang rusuk logam, kemudian membersihkannya dari kotoran yang menempel. Plastik yang sudah dicuci kemudian dilipat dan disetrika. Seusai disetrika, material utama dari tas tangan Saito siap untuk dirakit menjadi tas tangan yang stylish. Tas tangan kreasi Saito memiliki tekstur yang cantik, mirip tetesan air hujan di kaca.
Dari sekian banyak koleksi tas tangan Saito, tas tangan dengan jejak karatlah yang paling unik. “Karatnya mengingatkanmu pada kehidupan lampau plastik ini sebagai payung. Tampilan unik dari tiap produk hanya dapat diciptakan dari proses daur ulang,” ujar Saito.
Pada usia 26 tahun, Saito belajar membuat tas di sekolah desain aksesoris. Handbag pertama buatannya tercipta dari rok kulit bekas. Namun pada akhirnya, Saito memutuskan untuk tidak lagi menggunakan material kulit hewan dalam membuat tasnya, karena ia tidak bisa memisahkan produk hewani dari makhluk hidup.
Sebagai pengganti material kulit hewan, Saito memilih menggunakan bahan yang animal friendly, seperti biniiru-gasa. “Mereka dikirim ke luar negeri, dibuang ke tempat pembuangan sampah, Anda melihat mereka tergeletak di mana-mana. Ini adalah isu yang benar-benar dapat saya hubungkan dengan produk saya,” kata Saito.
Setelah berkali-kali mencoba, Saito akhirnya berhasil menemukan metode yang tepat dalam membuat tasnya. Ia kemudian memamerkan karyanya di pameran sekolah. Tidak disangka, dan desainnya dilirik industri daur ulang. Sehingga idenya untuk memproduksi tas ini dalam skala besar pun dapat terwujud.
Saat ini Saito sedang mengembangkan desain tas practical backpack untuk menarik calon konsumen dari kalangan pria. Pasalnya, mayoritas konsumen tas Saito berasal dari kalangan perempuan. Ia ingin agar semakin banyak orang yang sadar akan masalah limbah biniiru-gasa. Ia juga tidak mengejar keuntungan dari penemuannya ini, bahkan ia memiliki impian mulia melalui produknya. Ia berharap, kedepannya orang tidak lagi membuang biniiru-gasa dengan mudahnya, sehingga suplai bahan baku dari tasnya dapat berhenti.
Artikel ini dibuat dari berbagai sumber

