Sumber Gambar : NHK WORLD-JAPAN
Penulis : Grace Kolin
Seorang warga Jepang, Take Yusuke, menjalani profesi pengumpul sampah dengan penuh semangat. Bagaimana tidak? Setiap hari, ia rela berkendara sejauh 100 km untuk mengumpulkan 3 ton sampah. Selain mengumpulkan sampah, Take juga melakukan tugas lain di luar dari pekerjaannya, seperti menjelaskan kepada orang tentang peraturan memilah sampah hingga membersihkan sampah-sampah yang berserakan di pinggir jalan. “Saya tumbuh besar di kota ini, jadi saya tidak ingin melihat kota ini kotor,” ujar Take.
Sebelum menjadi pengumpul sampah, Take adalah seorang remaja yang bermasalah dengan hidup yang tidak berkualitas. Kala itu, ia hanya berfokus pada dirinya sendiri (self centered) dan menganggap hal yang nakal adalah hal yang keren. Kemudian, Takiko, istri Take hadir dalam hidup Take dan menginspirasinya untuk berubah ke arah yang lebih baik.
Take pun mulai bekerja sebagai pengumpul sampah sejak ia berusia 23 tahun. Awalnya ia berpikir bahwa pekerjaan mengumpulkan sampah itu mudah. Namun setelah ia menjalani profesi ini, ia baru menyadari bahwa pekerjaan ini sangat berat dan melelahkan.
Selama menjadi pengumpul sampah, Take pernah merasakan pengalaman tidak mengenakkan yang membekas di hatinya. “Beberapa anak mengatakan mobil pengangkut sampah saya bau, dan harusnya mobil itu tidak berada disini. Ada juga mahasiswa-mahasiswa kampus yang pintar dan terdidik, mereka mengatakan saya bau. Orang-orang berpikir bahwa pekerjaan saya itu kotor. Mereka memandang pekerjaan ini dengan sebelah mata,” kenang Take. Karena cibiran itu, ia sempat menjadi trauma, depresi, dan membenci pekerjaannya.
Di masa terpuruknya, ia menemukan sepucuk surat dan beberapa hadiah untuknya di titik penjemputan sampah. Di dalam surat itu tertulis: Terima kasih atas kerja keras anda, tolong terima hadiah ini. Hal ini lantas memotivasi Take untuk mengubah perilakunya. “Saya ingin mengubah pandangan orang terhadap pekerjaan ini, bagaimana orang menerima industri dan pekerjaan ini. Saya ingin mereka melihat saya bekerja dengan bangga dan berpikir bahwa pekerjaan ini keren. Itulah mengapa, sampah adalah impian saya,” kata Take. Ketika ada beberapa staf kantor yang meninggalkan sampahnya dalam keadaan belum terpilah, Take mencoba melakukan pendekatan kepada mereka.
Kepada NHK WORLD-JAPAN Take mengatakan, “Ini akan terus terjadi jika saya tidak melakukannya. Saya perlu berbicara dengan mereka secara langsung agar mereka tahu cara memilah sampah dengan benar. Karena itu, komunikasi adalah hal yang penting.”
Dia bertemu dengan staf pekerja dan menjelaskan kepada mereka proses memilah dengan seksama. “Ini adalah cara yang benar dalam memilah sampah, mari bantu kami untuk membuat kota ini bersih,” pesan Take kepada staf-staf kantor tersebut. Beberapa hari kemudian, Take menemukan sampah itu sudah dalam keadaan terpilah dengan benar.
Take sangat senang karena mereka telah mengerti dan mau membantu memilah sampah dengan benar. “Jika Anda berpikir sampah hanya akan berhenti sampai disini, saya ingin lebih daripada itu. Saya ingin terus mengumpulkan sampah selamanya,” pungkas Take dengan penuh semangat.
Artikel ini dibuat dari berbagai sumber

