Pelabuhan Sunda Kelapa, salah satu pelabuhan tertua di Indonesia

Sumber Gambar : missnidy.com

Penulis : Grace Kolin

Setiap tanggal 17 Juni, Indonesia memperingati Hari Dermaga Nasional. Menurut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dermaga adalah tembok rendah yang memanjang di tepi pantai menjorok ke laut di kawasan pelabuhan. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa hubungan dermaga dan pelabuhan tidak dapat dipisahkan.

Bicara tentang pelabuhan di Indonesia, Indonesia memiliki salah satu pelabuhan tertua, yaitu Sunda Kelapa. Melansir dari laman nationalgeographic.grid.id, pelabuhan ini memiliki sejarah yang panjang. Selain merupakan pelabuhan tertua di Indonesia, Sunda Kelapa juga merupakan asal muasal dari terbentuknya Kota Jakarta.

Menurut sejarah, pelabuhan milik Kerajaan Tarumanegara ini sudah ada sejak abad ke-5. Pada abad ke-12, pelabuhan ini kemudian berpindah tangan menjadi milik Kerajaan Sunda. Sejak saat itu Pelabuhan Sunda Kelapa berkembang menjadi salah satu pelabuhan penting di Pulau Jawa karena lokasinya yang sangat strategis kala itu.

Tidak hanya diramaikan oleh pedagang Nusantara, aktivitas Pelabuhan Sunda Kelapa juga diramaikan oleh pedagang mancanegera dari Tiongkok, Arab, India, Inggris, dan Portugis. Saat itu, hubungan Portugis dengan Kerajaan Sunda bahkan cukup harmonis, sehingga Portugis mendapatkan ijin untuk membangun kantor dagang di sekitar pelabuhan.

Hubungan antara Portugis dan Kerajaan Sunda yang sangat akrab ini kemudian dipandang sebagai ancaman bagi Kerajaan Demak, sehingga disusunlah rencana penyerangan atas Sunda Kelapa di bawah pimpinan Fatahillah. Tepat pada tanggal 22 juni 1527, Kesultanan Demak-Cirebon berhasil menguasai Sunda Kelapa. Nama Sunda Kelapa pun diubah menjadi Jayakarta. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai hari ulang tahun Kota Jakarta.

Setelah Demak berkuasa, Belanda dibawah pimpinan Cornelis de Houtman tiba pertama kali di Pelabuhan Sunda Kelapa pada tahun 1596 dengan tujuan utama mencari rempah-rempah, Pada tahun 1610 Belanda membuat perjanjian dengan Pangeran Jayawikarta penguasa Jayakarta. Dalam perjanjian tersebut, disebutkan bahwa Belanda diijinkan membuat gudang dan pos dagang di timur muara sungai Ciliwung.

Setelah perjanjian disetujui, Belanda meraih keuntungan yang besar akibat perdagangan rempah-rempah yang mereka lakukan di negeri asal mereka. Melihat keuntungan yang pesat, Belanda akhirnya memutuskan untuk melakukan ekspansi di Jayakarta dan mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia. Di bawah kekuasaan Belanda, kanal pelabuhan Sunda Kelapa juga ikut direnovasi.

Memasuki abad ke-19, masa kejayaan pelabuhan Sunda Kelapa perlahan meredup akibat pendangkalan air di daerah sekitar pelabuhan sehingga kapal dari tengah laut sulit untuk berlabuh. Padahal pada saat itu, Terusan Suez baru saja dibuka dan seharusnya bisa menjadi batu loncatan bagi pelabuhan ini untuk berkembang lebih pesat lagi.

Melihat pelabuhan ini menyia-nyiakan potensi yang diberikan Terusan Suez, Belanda akhirnya memilih Tanjung Priok sebagai tempat untuk mengembangkan pelabuhan baru. Keberhasilan Tanjung Priok menjadi pelabuhan terbesar se-Indonesia perlahan-lahan membuat keberadaan Pelabuhan Sunda semakin tersisih. Kini, Pelabuhan Sunda Kelapa hanya melayani jasa untuk kapal antar pulau di Indonesia. Namun karena memiliki nilai sejarah yang tinggi, pelabuhan ini pun dialihfungsikan menjadi situs bersejarah.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber