Sumber Gambar : Canva Pro
Penulis : Grace Kolin
Setiap manusia dilahirkan dengan bentuk tubuh yang berbeda-beda. Hanya saja terkadang, ‘standar’ tubuh ideal yang terbentuk dalam masyarakat membuat sebagian orang sulit menerima bentuk tubuh yang ia miliki secara apa adanya. Kondisi ini juga tak jarang memicu gangguan kesehatan mental pada seseorang, contohnya body dysmorphic disorder atau gangguan dismorfik tubuh.
Penderita body dysmorphic disorder cenderung memiliki pikiran negatif atau rasa cemas terhadap kekurangan dari satu atau beberapa anggota tubuh. Pikiran negatif itu muncul karena penderita menganggap bentuk anggota tubuhnya tidak ideal. Berikut beberapa gejala atau perilaku yang bisa menjadi pertanda bahwa seseorang menderita gangguan dismorfik tubuh menurut laman alodokter.com, di antaranya:
- Bercermin berulang-ulang dalam waktu lama.
- Menyembunyikan anggota tubuh yang dianggap tidak sempurna.
- Meminta orang lain meyakinkan dirinya berulang kali bahwa kekurangan bentuk tubuhnya tidak terlalu jelas terlihat.
- Berulang kali mengukur atau menyentuh area tubuh yang dianggap tidak sempurna.
Meski terkesan sepele, gangguan dismorfik tubuh dapat membuat penderitanya terganggu dari segi pekerjaan, prestasi di sekolah, hingga hubungannya dengan orang lain. Selain itu, penderita juga dapat merasakan hilangnya keinginan untuk pergi ke tempat umum, merasa cemas jika berada di antara orang lain, mengalami depresi berat, dan bahkan memiliki ide untuk bunuh diri.
Dikutip dari laman tersebut, penanganan terhadap body dysmorphic disorder dilakukan dengan kombinasi antara terapi perilaku kognitif dan pemberian obat-obatan. Sementara untuk pencegahannya, dapat dilakukan dengan senantiasa menerapkan pola pikir tentang bentuk tubuh yang sehat dan realistis. Hal ini dapat dilakukan oleh orang tua dan orang-orang terdekat untuk mendukung gambaran tubuh yang positif.
Artikel ini dibuat dari berbagai sumber

