Kaligrafi Tiongkok

Asap cair buatan SMKN 1 Pangkalan Kerinci (Foto: Vokasi Kemdikbud)

SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Riau, mengembangkan produk asap cair sebagai wujud pengelolaan limbah biomassa yang ada di wilayah Pelalawan, Riau.

Asap cair ini merupakan produk yang dibuat oleh siswa Jurusan Teknik Energi Terbarukan (TET) untuk mengurangi dampak sampah terhadap lingkungan.

Asap cair merupakan produk hasil destilasi atau pengembunan dari uap hasil pembakaran, baik tidak langsung maupun langsung dari bahan yang banyak mengandung karbon dan senyawa-senyawa lain.

Bahan baku yang biasa digunakan untuk membuat asap cair, adalah tempurung kelapa, kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penggergajian kayu, dan biomassa lainnya.

Asap cair memiliki berbagai fungsi, misalnya untuk bahan pengawet makanan, disinfektan, pengusir hama, hingga menjadi pupuk tanah, bahkan asap cair dengan konsentrasi tertentu pun dapat digunakan sebagai obat untuk manusia.

Guru Jurusan TET SMKN 1 Pangkalan Kerinci Yanti Darma mengatakan, ada cukup banyak limbah batok kelapa di wilayah Riau.

“Biasanya limbah-limbah ini kalau tidak untuk bahan bakar, ya, dibiarkan saja. Ini, ‘kan, bisa jadi sarang nyamuk dan menimbulkan bau juga. Kalau diolah dengan benar bisa bermanfaat untuk kehidupan,” ujar Yanti dikutip dalam keterangannya, Jumat (10/11).

Batok-batok kelapa yang sudah dikumpulkan, kemudian diproses oleh para siswa. Proses ini cukup memakan waktu karena harus menghaluskan bahan dasar supaya bisa masuk ke proses kondensasi dan menghasilkan asap cair.

Selain untuk mengurangi limbah organik, tujuan SMKN 1 Pangkalan Kerinci memproduksi asap cair, adalah untuk memenuhi kebutuhan pestisida bagi masyarakat yang berkecimpung di arena perkebunan.

Siswa Jurusan TET SMKN 1 Pangkalan Kerinci Afriansyah menuturkan, asap cair sebenarnya memiliki manfaat yang baik untuk manusia.

Melalui proses produksi asap cair ini, para siswa bisa belajar berpikir untuk mengolah bahan yang tadinya tidak memiliki nilai jual menjadi produk yang berharga dan bermanfaat.

“Daerah kita ini banyak kayu yang bisa diolah menjadi furnitur dan sebagainya. Asap cair diperlukan untuk menangani pelapukan pada kayu akibat rayap. Proses ini memberikan kita banyak pengalaman yang sangat berharga,” tutup Afriansyah.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: