Sensory Food Aversion (SFA) pada bayi.

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Tidak hanya anak-anak, bayi juga rentan mengalami ketidakcocokan pada makanan, bahkan dalam kondisi yang ekstrem sebagian bayi ada yang mengalami reaksi sensorik yang kuat terhadap jenis makanan tertentu. Hal ini disebut dengan sensory food aversion (SFA). Melansir dari laman Nutrition for Kids, masalah ini dipicu oleh kualitas makanan tertentu seperti rasa, tekstur, suhu, dan bau.

Meski terkesan mirip dengan picky eater atau pilih-pilih makanan, nyatanya SFA dengan picky eater adalah dua hal yang berbeda. Bayi dengan picky eater memang hanya bisa menerima variasi makanan yang lebih sedikit. Namun, jika tidak disertai masalah sensorik, biasanya mereka masih mau makan lebih dari 30 jenis makanan. Berbeda dengan bayi yang memiliki SFA, mereka hanya mau makan kurang dari 20 makanan yang berbeda.

Tanda-tanda bayi mengalami SFA juga dapat terdeteksi sejak usianya masih beberapa minggu, menurut jurnal Sensory Food Aversion in Infants and Toddlers yang ditulis oleh Irene Chatoor. Berikut adalah tanda-tandanya:

  • Memiliki pola menghisap yang berbeda pada beberapa bulan pertama kehidupannya. Yaitu menghisap lebih dari 100 isapan per sesi makan ketimbang bayi yang punya perilaku makan yang normal di kemudian hari.
  • Ketika menginjak waktu konsumsi makanan padat, bayi dengan SFA terlihat sangat sensitif terhadap tekstur makanan, menyemburkan makanan, meringis, tersedak, dan memuntahkan makanan.
  • SFA membuat bayi menjadi sangat tertekan dan menyebabkan perlawanan yang lebih keras dari sebelumnya ketika menghadapi tekstur makanan tertentu yang berusaha diberikan secara berulang-ulang.

Ketika asupan makanan yang diterima bayi terbatas atau kurang bervariasi, dalam jangka panjang bayi dapat mengalami kekurangan gizi yang seperti protein, zat besi, vitamin D, vitamin C, dan seng. Tentunya, ini akan mengganggu tumbuh kembang dari si bayi.

Dari sisi emosional keluarga, orangtua dengan bayi SFA juga dapat menjadi stres, terutama saat waktu makan tiba. Orangtua merasa khawatir jika SFA dapat menjadi penghalang bagi anak dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya. Selain itu, terbatasnya preferensi makan pada bayi juga menjadi tantangan bagi para orangtua dalam menyajikan makanan untuk mereka. Menurut popmama.com, apabila orangtua curiga bayinya mengalami SFA, ada baiknya mereka pergi berkonsultasi dengan dokter anak atau ahli gizi anak. Karena jika dibiarkan, SFA dapat meluas ke ketidakmampuan untuk mentolerir hal-hal lainnya seperti suara keras, tekstur pada pakaian, menyikat gigi, mencuci rambut, dan lain-lain.

Penting juga untuk tidak memaksa bayi untuk memakan makanan tertentu. Hindari keributan dan perselisihan karena hal ini, yang justru akan membuat bayi jadi semakin trauma untuk makan.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber