Kaligrafi Tiongkok

Perajin kain sutra teratai Phan Thị Thuận. (Foto: AFP/Nhac Nguyen)

Phan Thị Thuận (70) menjadi pencetus pembuatan kain sutra menggunakan batang tanaman teratai, sebagai alternatif pembuatan kain sutra menggunakan ulat sutra.

Mulai dari bulan Mei hingga September setiap tahunnya, perajin Phan Thị Thuận dari desa Phùng Xá, Mỹ Đức, Hà Nội, bersama keluarganya memulai proses memanen batang teratai untuk ditenun menjadi kain sutra.

Melansir dari Baotang Hanoi, pada musim tersebutlah bunga teratai bermekaran di kolam-kolam di sekitar desa-desa pedesaan di Vietnam.

Tidak banyak yang menyangka jika batang tanaman teratai yang ramping dan kasar, ternyata terdapat serat kuat dan berkilau yang bisa diesktrak, serta cukup untuk menenun kain yang begitu indah.

Sutra teratai yang lembut dan halus, dengan warna netral, latar belakang yang elegan dan murni, yang mencerminkan sifat wanita Vietnam yang sabar dan rajin, telah menjadi ciri khas desa sutra tradisional ini.

(Phan Thị Thuận membersihkan tangkai teratai. Foto: VN Express)

 

Memanfaatkan Teratai

Penduduk komune Phùng Xá terlibat dalam setiap aspek kerajinan tradisional, mulai dari menanam pohon murbei, beternak ulat sutra, dan memelihara kepompong sutra hingga menenun dan mewarnai kain.

Dari akhir tahun 1960-an hingga awal 1980-an, Phùng Xá terkenal sebagai Ibu Kota Ulat Sutra, bersamaan saat Perusahaan Ulat Sutra Mỹ Đức berkembang pesat.

Melalui pengalaman lebih dari 60 tahun dalam menenun sutra, Thuận adalah satu-satunya perajin di Vietnam yang menenun sutra dari serat teratai.

“Di kampung halaman kami, mulai dari kakek-nenek hingga orang tua dan tetangga di desa, semua orang terlibat dalam profesi menenun sutra. Ini adalah warisan yang ditinggalkan oleh kakek dan nenek saya, dan sampai sekarang, saya sangat terikat dengan seni membudidayakan ulat sutra dan menanam pohon murbei,” ujar Thuận dikutip dalam keterangannya, Kamis (18/4).

Semangatnya yang mendalam terhadap kerajinan tenun sutra, membuat Thuận konsisten untuk menciptakan produk baru yang bertujuan untuk membawa ketenaran ke tanah air mereka.

“Saya bergelut dan merenungkan profesi ini, bercita-cita untuk menciptakan produk yang unik dan khas yang tidak ada bandingannya,” ungkap Thuận.

Melalui ide untuk melestarikan keindahan dan keanggunan tanaman teratai yang abadi, Thuận menghabiskan waktu untuk meneliti, bereksperimen, dan berhasil berinovasi dalam proses memanen dan menenun kain sutra teratai.

Kain yang dihasilkan dari sutra teratai memiliki keharuman yang halus, elastisitas, sifat cepat kering, memberikan perasaan sejuk dan nyaman bagi pemakainya.

“Pada awalnya, tidak ada yang percaya bahwa saya dapat mengekstrak sutra teratai dan menenun kain dari serat yang begitu halus. Saya menghadapi banyak kegagalan, tetapi tekad saya tidak pernah berhenti,” katanya.

(Phan Thị Thuận memegang kain sutra teratai miliknya. Foto: VN Express)

 

Lahir di Keluarga Perajin Sutra

Lahir dalam keluarga perajin dan penjual sutra tradisional, Thuận telah telah mulai menenun sejak usia enam tahun.

Tidak diragukan lagi jika ia memiliki banyak keterampilan dan pengalaman selama kariernya. Tidak heran juga, jika Thuận menyadari bahwa beternak ulat sutra merupakan pekerjaan yang berat. Sampai akhirnya, ia menemukan alternatif untuk menggantikan ulat sutra dengan teratai.

Thuận mengaku, jalinan takdirnya untuk menenun kain dari sutra teratai ini tidak disengaja. Pada tahun 2017 lalu, ketika delegasi Majelis Nasional bersama dengan pejabat distrik Mỹ Đức mengunjungi fasilitas produksi, seorang delegasi wanita menyarankan Thuận untuk mencoba meneliti dan membuat produk sutra dengan sutra teratai.

Akhirnya, Phan Thị Thuận pun membawa tenun sutra naik kelas, dengan berhasil meneliti dan memproduksi sutra teratai. Kain sutra ini terbuat dari bagian tanaman teratai yang sering dibuang, yakni tangkai teratai.

“Pada awalnya, saya merasa sangat aneh karena saya belum pernah mendengar produk ini. Namun, setelah mencari di internet, saya menemukan bahwa menenun sutra dari sutra teratai merupakan hal yang umum dan cukup populer di Myanmar,” jelas Thuận.

(Proses penarikan benang sutra dari tangkai teratai. Foto: VN Express)

 

Proses Pembuatan Kain Sutra

Proses pembuatan sutra teratai membutuhkan ketelitian dan ketelatenan ekstra, apalagi ada banyak langkah untuk menciptakan sebuah produk kain sutra.

Untuk menghasilkan kain yang sederhana, tetapi tetap elegan dengan esensi puitis, para perajin harus melaksanakan hingga 14 langkah dengan teliti yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

Mulai dari memanen batang teratai, membersihkan, dan memproses dengan cepat untuk mengekstrak lebih banyak serat, sehingga menghasilkan sutra yang cerah dan lembut.

Sebaliknya, jika dibiarkan atau diproses terlalu lama, makan batangnya akan mengering dan sangat sulit untuk mengekstraksi sutra.

Tahap yang paling menantang dalam pembuatan kain sutra tenun, aadalah mengekstraksi sutra dari batang teratai.

Untuk mendapatkan sutra teratai, para perajin harus memegang setiap ikat batang teratai dengan hati-hati karena benang sutra sangat tipis dan mudah putus.

Selanjutnya, para perajin harus mengupas batangnya dengan lembut, meraba dan menarik serat-seratnya secara perlahan, lalu membungkusnya secara melingkar. Nantinya, serat-serat yang rapuh perlahan-lahan muncul, berkat kepekaan dan tangan-tangan terampil sang perajin.

Untuk menyelesaikan syal sutra teratai dengan panjang 1,7 m dan lebar 0,25 m, Thuận membutuhkan 4.800 tangkai teratai dan waktu lebih dari 1 bulan untuk menyelesaikan syal tersebut.

Sementara itu, untuk syal sutra berukuran besar rata-rata membutuhkan sekitar 9.200 tangkai teratai dan membutuhkan waktu sekitar 2 bulan untuk diselesaikan.

Seorang perajin yang terampil, biasanya hanya bisa memproses sekitar 200 batang hingga 250 batang teratai per hari. Jadi, perajin harus bersabar selama hampir satu bulan untuk mengekstrak serat yang cukup untuk menenun selembar kain.

Sejalan dengan kerumitan dan kecanggihan produksinya, sutra teratai memiliki nilai yang tinggi. Satu syal sutra biasa, bisa dibanderol dengan harga sekitar USD20 (sekitar Rp323.500), sedangkan untuk syal teratai sutra, angkanya bisa mencapai 10 kali lipat.

Berkat ketelitiannya, Thuận sukses memasarkan syal sutra teratai tenunannya sendiri. Thuận mengatakan, bahwa ia hanya dapat memproduksi dalam jumlah terbatas untuk melayani pelanggan yang memesan di awal.

Produk sutra teratainya pun telah menjangkau banyak negara seperti Jepang, Prancis, Amerika Serikat, Arab Saudi, Italia, Taiwan, dan China.

(Phan Thị Thuận mengajari anak-anak membuat kain sutra dari tangkai teratai. Foto: VN Express)

 

Meningkatkan Nilai Jual

Dahulu, para perajin harus bekerja keras selama berjam-jam untuk membersihkan tangkai-tangkai teratai yang membusuk di ladang, agar tidak merusak tanah dan mengundang munculnya serangga berbahaya.

Namun, berkat kejeliannya, Thuận telah membawa produk tenun sutra tradisional Vietnam ke tingkat yang lebih tinggi.

Saat ini, ada sekitar 50 pekerja dari berbagai usia yang bekerja di bengkel tenun milik Thuận yang didominasi oleh kaum muda.

Setiap orang bertanggung jawab atas satu langkah pembuatan kain sutra. Mulai dari mengambil tangkai di ladang teratai, membelah tangkai, hingga menggulungnya menjadi benang.

Thuận sendiri bertugas mengawasi dan menginstruksikan mereka dengan hati-hati. Namun, pelajar baru akan dibimbing olehnya sampai mereka mahir.

Meskipun sutra teratai telah diproduksi di beberapa negara, termasuk Myanmar dan Kamboja, Thuận masih dianggap sebagai pelopor dalam bidang kreatif ini di Vietnam.

Di sisi lain, Thuận juga rajin menyelenggarakan sesi pelatihan bagi para siswa selama waktu istirahatnya, dengan harapan dapat menciptakan ruang yang dinamis untuk bidang tradisional ini.

“Saya akan terus berinovasi dengan produk yang lebih beragam, serta berharap produk saya akan dihargai karena sutra teratai benar-benar layak mendapatkan apresiasi dan kekaguman artistik,” tutup Thuận.

Berkat kreativitas dan kepiawaiannya, Thuận dianugerahi sebagai Perajin Unggul oleh pemerintah setempat pada tahun 2016 dan mendapatkan gelar “Warga Ibukota yang Unggul” oleh Kota Hanoi pada tahun 2021.

Saat ini, Thuận berkomitmen untuk mewariskan keahliannya kepada generasi muda. Thuận berharap, suatu saat nanti dirinya bisa mendirikan gerai pameran produk, menyelenggarakan lokakarya pengajaran keterampilan untuk perajin masa depan, dan membentuk tim desainnya sendiri.

Tentunya, untuk membuat produk yang semakin luar biasa dan dapat dipasarkan, baik untuk pelanggan domestik maupun internasional.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: