Sumber Gambar : Canva Pro
Penulis : Grace Kolin
Penyakit cacar monyet alias monkeypox belakangan dilaporkan tengah mewabah di 12 negara, seperti negara Eropa, Amerika Serikat, Australia dan juga Kanada. Penyakit langka ini disebabkan oleh virus yang merupakan bagian dari keluarga yang sama dengan cacar, meskipun biasanya tidak terlalu parah. Orang yang terjangkit penyakit ini hanya mengalami gejala yang ringan seperti seperti demam, sakit punggung, dan ruam yang hilang dengan sendirinya dalam dua hingga empat minggu.
Per tanggal 23 Mei, Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, dr Mohammad Syahril menegaskan pihaknya belum mendeteksi adanya kasus cacar monyet di Indonesia. Meski penyakit yang tidak terlalu parah ini belum tiba di tanah air, pemerintah tetap mewaspadai penyakit tersebut dengan melakukan sejumlah langkah antisipatif. Seperti memperkuat deteksi dini atau skrining di pintu-pintu masuk seperti bandara dan pelabuhan dan melakukan pemeriksaan terhadap penumpang yang memiliki gejala penyakit cacar monyet.
Mirip dengan COVID-19, pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi penyakit ini adalah dengan metode swab PCR, yaitu dengan mengambil sampel darah atau cairan dari benjolan yang timbul. Pihak Kemenkes juga sudah menyiapkan dua laboratorium untuk melakukan pemeriksaan terhadap sampel-sampel yang diduga sebagai cacar monyet, yaitu di Litbangkes, Kementerian Kesehatan dan di RSPI Sulianti Saroso.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik berlebihan. Namun tidak ada salahnya untuk mengetahui beberapa fakta mengenai penyakit cacar monyet:
- Dilansir dari covid.kemkes.go.id, penyakit ini dinamakan dengan cacar monyet, karena penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark. Kala itu, ada dua kasus seperti cacar muncul pada koloni kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar ini dinamakan ‘monkeypox’. Penyakit ini memiliki perbedaan utama dengan penyakit cacar (smallpox), yaitu pada gejalanya. Pasien yang terinfeksi cacar monyet mengalami pembengkakan kelenjar getah bening, sementara pada cacar tidak ada.
- Cacar monyet dapat menular ke pihak lain ketika seseorang melakukan kontak fisik yang dekat dengan orang yang terinfeksi. Virus ini akan masuk ke dalam tubuh melalui kulit yang rusak, saluran pernapasan atau melalui mata, hidung hingga mulut. Selain itu, cacar monyet juga dapat menyebar melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi seperti monyet, tikus dan tupai, atau melalui benda yang terkontaminasi virus, seperti tempat tidur dan pakaian.
- Sejauh ini, tidak ada pengobatan untuk cacar monyet. Akan tetapi, wabah ini dapat dikendalikan dengan pencegahan infeksi seperti melakukan vaksinasi. Vaksinasi terhadap cacar telah terbukti 85% efektif dalam mencegah penyakit ini. Terkadang, langkah ini juga masih digunakan hingga saat ini.
- Infeksi cacar monyet memang dapat sembuh dengan sendirinya. Namun dapat berisiko pula menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia dan kematian. Selain dapat dicegah dengan vaksinasi cacar, penyakit ini juga dapat diminimalisir dengan menerapkan gaya hidup bersih dan sehat, menunda berkunjung ke negara-negara yang menjadi tempat mewabahnya penyakit ini, dan hindari kontak langsung dengan hewan yang membawa virus cacar monyet (termasuk hewan yang sakit atau yang ditemukan mati di daerah di mana cacar monyet terjadi).
Artikel ini dibuat dari berbagai sumber

