Kaligrafi Tiongkok

Shige Yukio (Foto: Jonathan Kaiman via Los Angeles Times)

Yukio Shige (79) adalah pensiunan polisi Jepang yang aktif melakukan pencegahan bunuh diri di Tebing Tōjinbō, Prefektur Fukui, Jepang.

Shige dikenal sebagai pria “chotto matte” atau “tunggu sebentar”. Julukan ini muncul dari kata-kata yang biasa ia ucapkan kepada orang-orang yang berniat untuk bunuh diri.

Selama lebih dari 19 tahun, Shige telah berhasil menyelamatkan nyawa 789 orang yang berniat untuk mengakhiri hidupnya.

Semasa hidupnya, Shige bekerja sebagai petugas polisi untuk Kepolisian Prefektur Fukui selama 42 tahun, lalu pensiun di usia 60 tahun. Saat itu, tugas terakhirnya adalah di Tōjinbō, di Sakai.

Shige sempat terkejut dengan banyaknya mayat yang harus disingkirkan dari laut. Pada salah satu patroli terakhirnya sebelum pensiun pada tahun 2003, dia bertemu dengan pasangan lansia Tokyo yang memiliki sebuah bar.

Mereka memiliki masalah utang yang besar dan ingin bunuh diri. Mereka berencana menceburkan diri ke laut saat matahari terbenam. Akhirnya, Shige meyakinkan mereka untuk tidak melakukannya, lalu memanggil mobil patroli untuk membawa mereka ke biro kesejahteraan setempat.

Namun, saat itu pihak berwenang setempat hanya memberi pasangan itu cukup uang untuk pergi ke kota berikutnya. Lima hari kemudian, Shige menerima surat dari mereka, dikirim sesaat sebelum mereka memutuskan untuk bunuh diri di Nagaoka, Niigata.

Setelah kejadian tersebut dan pensiun, Shige memutuskan untuk mulai berpatroli di tebing untuk mencoba mencegah orang-orang bunuh diri.

Pada 27 April 2004, Shige mendirikan Kokoro ni Hibiku Bunshu Henshukyoku (Biro Penerbitan kumpulan tulisan yang menyentuh hati) dan terus bekerja untuk mencegah bunuh diri di sekitar Tōjinbō.

Hampir setiap hari, Shige memanjat tebing dan mencari orang-orang putus asa dengan bantuan teropong di tangannya, lalu bersiap untuk mendengarkan cerita mereka.

“Cara saya menyelamatkan seseorang, sama seperti saya melihat seorang teman. Saya hanya menyapa mereka seperti mengatakan, ‘Hei, apa kabar?’ Orang-orang ini meminta bantuan, mereka hanya menunggu seseorang untuk berbicara dengan mereka,” ujar Shige dikutip dari Los Angeles Times, Jumat (14/4).

Saat menemukan korban, Shige akan menyapa mereka, mengajak mereka mengobrol sambil minum teh, memberinya tempat meginap, dan menghentikan niatnya untuk bunuh diri.

Di antara beberapa negara maju, tingkat bunuh diri Jepang termasuk salah satu yang tertinggi. Pada tahun 2016, ada sebanyak 17,3 kasus bunuh diri untuk setiap 100.000 orang.

Seperti di kebanyakan tempat, mayoritas korban yang melakukan bunuh diri adalah laki-laki. Metode yang paling umum dilakukan, adalah menggantung diri. Di antara orang berusia 15 hingga 39 tahun di Jepang, bunuh diri adalah penyumbang utama dari angka kematian, merenggut lebih banyak nyawa daripada gabungan kasus kanker dan kecelakaan.

Meskipun sebagian besar kasus bunuh diri di Jepang terjadi di rumah, tetapi beberapa kasus juga kerap terjadi di tempat-tempat “populer” seperti jembatan, tebing, hutan, dan gedung pencakar langit.

Di negara-negara Barat, penghalang seperti pagar, jaring, dan sebagainya telah menghentikan penyintas melakukan bunuh diri.

Sebenarnya, Shige telah mendorong pejabat di Tojinbo menyediakan perlindungan serupa, tetapi para pejabat menolak gagasan itu, dengan mengatakan bahwa itu akan merusak pariwisata. Namun, pihak berwenang telah memasang lampu luar ruangan untuk mencegah korban melompat dari tebing saat malam.

Shige menjelaskan, korban bunuh diri di Jepang mewakili berbagai demografi yang paling rentan di Jepang, seperti para tunawisma, orang tua, sampai anak sekolah di bawah tekanan akademik.

“Mereka naik kereta ke prefektur Fukui, lalu naik bus ke tebing. Mereka hanya membawa sedikit uang tunai dengan alasan ‘karena jika Anda pergi ke surga, Anda tidak perlu uang’,” katanya.

Biasanya, kata Shige, mereka akan duduk sendirian selama berjam-jam di sepanjang tebing, sampai matahari terbenam dan keramaian berkurang.

Shige mengaku, dirinya telah melihat begitu banyak kesedihan dan ia tidak ingin mendengar duka lagi.

“Tidak ada yang mau mati. Mereka adalah korban karena tidak ada yang memahami mereka. Mereka ingin seseorang mengulurkan tangan dan menyelamatkan mereka. Kami meminta agar kalian bersikap baik kepada orang-orang di sekitar. Hanya dengan melakukan itu, kalian akan menyelamatkan banyak nyawa,” tutup Shige.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini: