Roti Tan Ek Tjoan, roti yang tak lekang oleh waktu.

Penulis : Grace Kolin

“Membuat roti itu emang harus dengan hati. Jadi kalau dia tidak dengan hati, dia juga enggak akan bertahan. Dan hasilnya pun tidak akan optimal.” –  Josey Raffly Darwin, Pengelola Tan Ek Tjoan.

Zaman boleh berganti, namun produk masa lalu tidak boleh ketinggalan. Hingga kini, sebagian produk masa lalu di Indonesia masih tetap eksis dan tak lekang oleh waktu. Contohnya, roti Tan Ek Tjoan. Roti ini sudah berumur satu abad dan menjadi salah satu roti tertua di Indonesia. Adalah pria Tionghoa, Tan Ek Tjoan, yang mulai merintis usaha ini pada 1921 di Bogor. Saat Tan Ek Tjoan meninggal dunia pada 1950-an, istrinya, Phoa Lin, melebarkan sayap bisnis roti ini ke Jakarta. Sehingga tidak heran bila merek roti ini populer bagi warga Bogor dan Jakarta.

Sayangnya setelah kurang lebih 60 tahun berjaya, toko roti jadul Tan Ek Tjoan harus menutup tokonya di Cikini di tahun 2015 dan memindahkan pabriknya ke daerah Ciputat. Disinilah, Josey yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Tan Ek Tjoan.meneruskan bisnis roti milik sahabatnya, Alexandra Salinah Tamara, cucu dari Tan Ek Tjoan.

Mengapa Josey? Kala itu anak-anak dari Kim Tamara (anak dari Tan Ek Tjoan), Robert dan Alexandra Salinah Tamara tumbuh besar dan lebih banyak menghabiskan waktu di negeri Belanda, sehingga mereka tak banyak ikut campur dengan bisnis roti keluarga. Sepeninggal Kim Tamara, usaha roti ini diserahkan kepada pegawainya sementara Alexandra dan Robert tinggal di Belanda, sehingga bisnis roti ini jadi kurang terurus.

Pada 2010, Alexandra menawari teman masa kecilnya, Josey untuk mengelola roti Tan Ek Joan. Walaupun Josey tidak memiliki latar belakang atau pun pengetahuan ataupun soal bisnis roti, namun ia sangat antusias dan berani mengambil tantangan. Hingga akhirnya, ia pun menerima tawaran dari Alexandra dan menakhodai bisnis roti Tan Ek Tjoan, hingga saat ini.  

Ada beberapa fakta menarik mengenai roti yang legendaris ini, seperti yang dikutip dari tayangan Warisan Rasa DAAI+ :

  • Masih gunakan mesin peninggalan zaman dulu

Meski pabrik roti Tan Ek Tjoan tidak lagi menggunakan mesin dari tahun 1921, namun pabrik roti ini masih menggunakan beberapa mesin berumur tua yang memiliki kondisi yang prima, contohnya mesin timbangan yang berasal dari tahun 1940-an.

  • 3 Roti Tan Ek Tjoan yang menjadi primadona

Ada beberapa varian roti yang menjadi signature dari Tan Ek Tjoan, contohnya roti bimbam, roti nogat, dan roti gambang. Ketiga roti ini banyak diminati oleh para pembeli dan memiliki daya tariknya tersendiri.

Contohnya seperti roti bimbam, varian roti mengambil filosofi dari Tiongkok, yaitu Yin dan Yang. Dimana, bimbam  memiliki tekstur yang lembut sementara gambang berstektur keras, sehingga membuat kedua roti yang ‘saling berlawanan’ ini memiliki satu kekuatan untuk membangun satu sama lain.

Ada juga roti gambang, salah satu jenis kuliner khas Betawi. Kata “Gambang” disematkan pada nama roti ini karena melihat warna dan bentuk rotinya yang menyerupai salah satu alat musik Betawi, yaitu Gambang.

  • Pedagang Gerobak, Sang Ujung Tombak Pemasaran

Meski di masa kini sebagian bisnis roti menggunakan teknik pemasaran yang lebih modern seperti armada motor dan suara elektronik untuk menjangkau konsumennya, roti Tan Ek Tjoan masih menggunakan teknik pemasaran yang konvensional, yaitu pedangang gerobak keliling. Setiap harinya, lebih dari seratus pedagang gerobak keliling menjajakan roti legendaris ini ke berbagai sudut kota Jakarta sampai ke sampai daerah pinggiran Ciputat, Tangerang, Cinere, dan juga Bekasi.