Penulis : Grace Kolin

Sering menyembunyikan kesedihan di balik senyuman? Kebiasaan ini dikenal dengan istilah eccedentesiast. Eccedentesiast berasal dari kombinasi tiga kata dalam bahasa Latin, yaitu ecce yang berarti saya mempersembahkan kepada Anda, dentes yang berarti gigi, dan iast yang bermakna penampil. Jika digabungkan, eccedentesiast memiliki arti seseorang yang tampil dengan menunjukkan gigi atau tersenyum.

Selain untuk meyakinkan orang lain bahwa mereka sedang bahagia, ada beberapa alasan yang mendasari seseorang dalam melakukan kebiasaan ini sebagaimana yang dilansir dari laman voi.id. Pertama, seseorang dengan eccedentesiast ingin melindungi privasi mereka. Alasan lainnya; takut dihakimi, takut membebani orang lain, takut menerima konsekuensi, khawatir dinilai lemah oleh orang lain, merasa bersalah, merasa malu, hingga memiliki pandangan yang tidak realistis terhadap kebahagiaan.

Menurut laman tersebut, orang dengan eccedentesiast memiliki beberapa karakteristik, seperti:

  1. Selalu terlihat bahagia dan ceria.
  2. Cenderung introvert.
  3. Hanya berbicara dengan teman terdekatnya.
  4. Adanya perubahan nafsu makan.
  5. Kehilangan minat pada aktivitas yang mereka nikmati.

Psikolog Denrich Suryadi, M.Psi dalam program Bincang Sehati DAAI TV mengatakan apabila orang dengan eccedentesiast memiliki kemampuan dalam menyelesaikan masalahnya sendiri, maka kebiasaan ini tidak akan menjadi masalah baginya.

“Tapi kalau misalnya lebih karena pura-pura bahagia, tidak ingin orang lain tahu bahwa hidupnya sebenarnya menderita, otomatis ya ketika dia tidak ada saluran sama sekali, kemungkinan ia justru mengalami isu kesehatan mental yang semakin parah. Karena memang memilih untuk menyelesaikan sendiri namun tidak punya kemampuan, otomatis membuat dia tidak mampu sama sekali untuk membereskan masalahnya,” kata Denrich. Menurutnya, jika eccedentesiast berlangsung secara berkepanjangan, maka akan menimbulkan isu kesehatan mental seperti stres, burnout, dan dalam versi yang lebih parah dapat mengarah pada depresi.

Berikut ini adalah beberapa tips mengatasi eccedentesiast yang dirangkum dari program Bincang Sehati DAAI TV:

  • Jujur pada diri sendiri

Dengan jujur pada diri sendiri, seseorang akan tahu kapan ia harus meminta bantuan atau sharing dengan orang lain dan kapan ia harus menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri.

  • Sharing kepada orang lain

Dengan menceritakan kesulitan yang dialami, bukan berarti seseorang juga ikut memberikan beban kepada orang lain. Dengan mencurahkan segala unek-unek yang membebani pikiran, seseorang juga mungkin bisa memperoleh umpan balik yang lebih positif.

  • Mengubah pandangan orang lain jadi kritik yang membangun

Ketika seseorang menerima kritik dengan rasa percaya diri yang cukup besar, maka ia akan memandang kritik sebagai hal yang dapat ia gunakan untuk memacu dirinya menjadi lebih baik lagi.

  • Cari sumber bahagia yang sebenarnya

Meski defenisi kebahagiaan itu relatif, namun kebahagiaan juga dapat ditemukan dalam hal-hal yang sederhana seperti melakukan aktivitas yang menyenangkan, me time, atau menjadikan orang lain sebagai sumber kebahagiaan dengan membahagiakan mereka.