Sejak dulu, ikhlas telah menjadi bagian dari amalan manusia. Melakukan sesuatu dengan ikhlas artinya melakukan sesuatu dengan tanpa pamrih atau tanpa mengharap imbalan. Dalam kehidupan sehari-hari, praktik ikhlas tidak hanya sebatas mengenai bagaimana cara seseorang dalam menyikapi musibah yang menimpa dirinya, namun bagaimana cara seseorang ikhlas dalam berbuat kebaikan.

Berbuat kebaikan dengan ikhlas tentu tidaklah mudah. Terkadang, seseorang tidak dapat menghindari adanya motif-motif terselubung yang menyertai perbuatan baiknya. Selain itu, tidak jarang pula seseorang masih haus akan pujian dan pengakuan atas perbuatan baiknya. Menurut Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta dalam ceramahnya di program Harmoni Ramadan DAAI TV, ada dua jenis ikhlas dalam Islam. Yaitu Mukhlis dan Mukhlas.

Kedua jenis ikhlas ini memiliki perbedaan yang kontras. Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menggambarkannya dalam contoh yang sederhana.“Banyak orang hanya mampu bersyukur ketika ia diberikan nikmat oleh Allah, rela beribadah, sujud syukur, menyumbang segala macam, terima kasih, tanda syukur saya, saya bantu masjid dan sebagainya, tapi ketika ditimpa musibah, ia menggerutu. Nah itu contohnya Mukhlis.”

Secara sederhana, Mukhlis berarti berbuat ikhlas namun masih ingin mendapatkan pujian dari orang lain. Karena itu, kadar keikhlasan pada Mukhlis belum berada pada tingkat maksimum. Sementara Mukhlas adalah puncak dari keikhlasan. Menurutnya, orang-orang dapat dikatakan Mukhlas apabila ia tidak lagi menyukai pujian dan ucapan terima kasih dari orang lain. Orang yang Mukhlas juga menghindari popularitas dan cenderung menyembunyikan kebaikan yang ia lakukan dari orang lain. “Semakin mampu kita menyembunyikan kebaikan kita kepada orang lain, semakin utuh pahala kita nanti di akhirat. Tapi jika sebaliknya, semakin kita populerkan kebajikan kita kepada orang lain, maka semakin sedikit pahala yang didapat di akhirat,”  ungkap Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.

Dalam ceramahnya, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar juga menambahkan bahwa pujian itu hanya milik Allah SWT.  Lebih baik mendapatkan pujian penuh dari Allah daripada mendapatkan pujian dari sebagian orang. Karena jika seseorang mendapat pujian dari orang lain, maka pujian dari Allah akan berkurang, begitu juga dengan pahalanya. “Dimana ada keikhlasan disitu ada keajaiban. Kalau tidak ada keihklasan jangan berharap ada keajaiban,” tutup Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar dalam ceramahnya.