Sumber : Independensi

Berbicara mengenai sejarah Indonesia sejatinya juga tak terepas dari peran etnis Tionghoa didalamnya. Terlihat dari peristiwa Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928, dimana para pemuda Indonesia berikrar untuk mengucapkan Sumpah Pemuda di dalam rumah seorang Tionghoa bernama Sie Kong Liong sekaligus tempat pemutaran lagu kebangsaan Indonesia untuk pertama kalinya.

Berawal dari rasa penasaran, cucu dari Sie Kong Liong melihat sejarah mengenai gedung Sumpah Pemuda. Namun yang ia temukan pada dokumentasinya bukanlah foto dari Sie Kong Liong itu sendiri.

Rasa cinta tanah air yang ikut dibuktikan oleh orang Tionghoa lainnya adalah peristiwa disembunyikannya Bung Karno dan Bung Hatta di rumah etnis Tionghoa bernama Djiauw Kie Siong di Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945. Peristiwa ini terjadi satu hari menjelang hari kemerdekaan Indonesia.

Dalam dua momentum bersejarah bagi bangsa Indonesia ini, yaitu Sumpah Pemuda dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, orang-orang Tionghoa memainkan peran yang sangat penting untuk ikut menyediakan tempat bagi berlangsungnya peristiwa bersejarah ini.

Diketahu ahli waris dari gedung Sumpah Pemuda sendiri adalah anak dari Sie Kong Liong yakni Si Hok Liang, Sie Seng Nio, dan Sie Tjit Nio. Generasi keturunan dari Sie Kong Liong melakukan beberapa usaha untuk meluruskan foto Sie Kong Liong yang selama ini mereka anggap tak sesuai. Di mana mereka membawa beberapa berkas ke Gedung Sumpah Pemuda dengan niat agar foto asli dari Sie Kong Liong dapat diketahui oleh masyarakat luas.

Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai peran etnis Tionghoa dalam kemerdekaan Indonesia adalah salah satu penyebab terjadinya kerusuhan pada Mei 1998. Begitupun yang dikatakan oleh Azmi Abu Bakar selaku Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, “asumsi itulah yang membuat saya tergerak untuk mencari tahu tentang peran sejarah orang Tionghoa terhadap Indonesia,” ujarnya.

“Banyak jejak-jejak sejarah penting dalam perjalanan bangsa yang ada, melekat, sejarah orang Tionghoa,” kata Azmi.

Jadi pada dasarnya setiap elemen bangsa, terlepas dari apa etnisnya, ketika seseorang telah memberikan sebuah jasa pada negeri ini maka ia adalah bagian dari sejarah dan bangsa Indonesia.

Video Terkait