Dusun Thekelan, yang terletak di kaki gunung Merbabu terkenal dengan tingkat toleransinya yang tinggi, warga desa yang beragama Islam, Buddha dan Nasrani hidup berdampingan dengan damai. (Sumber : Youtube/Nusantara DAAITV)
Dyatmika Wulan
“Welas asih akan membuat hati lebih lapang dan penuh toleransi.”
Tanggal 13 Mei 2021, bangsa Indonesia akan memperingati dua hari besar agama yang berbeda. Umat Islam merayakan Idul Fitri setelah sebulan penuh berpuasa. Dan di hari yang sama, umat Kristen dan Katolik akan mengadakan kebaktian untuk memperingati kenaikan Yesus Kristus ke Surga. Semua ibadah akan dibatasi sesuai dengan protocol kesehatan yang berlaku, menyusul tersebarnya virus Covid19 varian baru dari Afrika dan India.
Momen perayaan hari besar agama yang berbeda, sangat mungkin terjadi di Indonesia yang masyarakatnya majemuk.
Dusun Thekelan, yang terletak di kaki gunung Merbabu adalah salahsatu representasi masyarakat Indonesia. Terkenal dengan tingkat toleransinya yang tinggi, warga desa yang beragama Islam, Buddha dan Nasrani hidup berdampingan dengan damai.
Supriyo, kepala Dusun Thekelan mengatakan bahwa, masalah agama memang sensitif, namun tidak terlalu bermasalah ketika hal musyawarah dan mufakat menjadi kesepakatan bersama. “Ketika ada suatu masalah, kita tidak akan selesaikan dengan pikiran yang panas, tapi dengan musyawarah dan mufakat”, lanjutnya.
Bungah, adalah salahsatu warga dusun Thekelan yang merasa nyaman dengan toleransi di desa tempat tinggalnya. Ia beragama Buddha, sedangkan istri dan anaknya menganut agama Kristen. “Kami meyakini adanya perbedaan dan keragaman akan memajukan diri kita. Kita juga tidak boleh menutup hati kita untuk saling belajar satu sama lain tanpa melanggar aturan keyakinan kita”.
Perbedaan membuat warga saling menghargai dan menghormati. Apa yang dialami Bungah juga dialami oleh keluarga-keluarga lain di desa Thekelan. Dalam satu rumah yang sama, bisa jadi akan dilakukan beberapa ibadah komunal yang berbeda. Namun tiap pemuka agama akan memberikan dukungan dan pengayoman supaya ibadah bisa berlangsung dengan aman.
Meski demikian, di masa digital seperti sekarang pengaruh sosial media yang marak dengan isu kebencian dan SARA, menjadi salahsatu tantangan bagi pemuda Thekelan. Para tokoh desa berharap dan berusaha menciptakan sistem dan masyarakat yang toleran untuk menjaganya.
“Tradisi toleransi sudah diajarkan sejak masa leluhur kita. Peran orang tua mengajarkan toleransi sangat dijaga supaya tradisi ini terus berlanjut”. Tutur Supriyo.
Di Indonesia banyak sekali agama, keyakinan, suku, ras, budaya namun ada satu kekayaan yang patut dijaga, yakni kerukunan. Dalam ruang sosial warga dusun akan berbicara masalah kerukunan dan bukan menonjolkan perbedaaan satu sama lain.
Tidak pernah terdengar konflik di desa ini. “Kalau kita hanya belajar satu paham dan menjadi fantik, maka kita tidak akan bisa memunculkan toleransi”, tutur Bungah.
“Kami sangat berharap pada anak-anak kami, supaya bisa menjaga nama baik dusun Thekelan, tradisi toleransi di dusun kami. Tidak mudah, namun demikian jika kita mengutamakan musyawarah untuk mufakat, gotong royong untuk kebersamaan, maka tidak akan ada yang terasa berat”, pungkas Supriyo.
Selamat Idul Fitri & Selamat memperingati Kenaikan Isa Al-Masih !
