Penulis : Grace Kolin

“Kita menjadi seorang difabel itu tidak membuat dunia kita itu akan selesai.”

– Nina  Kusumawati (Pendiri Komunitas Satu Hati).

Sepasang tongkat kruk menemani aktivitas Nina Kusumawati, seorang tunadaksa dalam menebarkan kebaikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Pendiri Komunitas Satu Hati ini menjadi difabel sejak tahun 1997, kala itu ia menderita kanker tulang dan terpaksa mengamputasi kaki kirinya.

Kini, dengan langkah yang ditopang sepasang tongkat, Nina bersama para relawan Komunitas Satu Hati membantu difabel di berbagai daerah dalam memperoleh layanan kesehatan. Terkadang, usaha Nina dan para relawan tidak selamanya berjalan dengan mulus, berbagai kendala di lapangan pernah mereka hadapi, salah satunya kendala dalam hal transportasi.

“Suatu waktu kita ada bawa pasien, dan karena kita tidak punya ambulan ya, Karena pasien ini kan harus mendapat penanganan, tapi ternyata pasiennya itu tidak tertolong di jalan. Yang ada di pikiran saya, seandainya kita punya armada khusus yang kita bisa membawa teman-teman yang membutuhkan penanganan medis cepat. Kalau kita punya armada itu mungkin bisa lebih banyak menolong. Itu jadi mimpi buat saya,” kata Nina.

Mimpi Nina akhirnya terwujud lewat program Mimpi Jadi Nyata DAAI TV. Melalui program televisi ini, Komunitas Satu Hati memperoleh bantuan berupa ambulans. Dengan ambulans, Komunitas Satu Hati bisa menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan dengan cepat dan tanggap.

Secara rutin, komunitas ini aktif membagikan bantuan untuk lansia yang hidup terlantar di Gunung Kidul. Komunitas ini juga menyalurkan alat bantu disabilitas untuk difabel dan mengadakan kegiatan rutin bulanan untuk difabel yang memiliki luka dekubitus (luka tekan). Kegiatan ini bertujuan untuk mengingatkan para difabel untuk merawat luka dekubitusnya. Selain itu, komunitas ini juga menyediakan layanan fisioterapi dalam kegiatan ini.

“Kedepannya bisa lebih banyak lagi menjangkau daerah daerah yang tidak terjangkau oleh pihak manapun, bisa lebih banyak lagi menebarkan cinta kami, kasih sayang kami untuk mereka yang membutuhkan. Artinya biar masyarakat kita semuanya bisa lebih bahagia lagi dengan kita banyak berbagi,” pungkas Nina.