Penulis : Grace Kolin

Terhitung sejak 15 Maret tahun lalu, sudah lebih dari setahun sosok Anton Medan berpulang kepada Yang Maha Kuasa. Namun, napak tilas kehidupan dan sosoknya yang inspiratif tetap terkenang hingga saat ini. Perjalanan kehidupannya penuh dengan lika-liku, mulai dari masa lalunya yang pernah terhimpit ekonomi, mendekam di balik dinginnya jeruji besi, hingga berhasil keluar dari “dunia hitam” dan menginspirasi orang-orang yang senasib dengannya.

Pada mulanya, Anton hanyalah orang biasa yang merantau ke Medan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Di tengah jerih payahnya mengumpulkan uang, Anton menghadapi kenyataan pahit ketika uangnya diambil oleh preman setempat kala ia sedang beristirahat. Anton berpikir bahwa ia harus berjuang mempertahankan haknya di tengah kehidupan yang keras. Sehingga semenjak kejadian itu, Anton mulai menceburkan diri dalam kelamnya dunia preman. Pengalaman berjudi, merampok, keluar masuk penjara hingga menjadi residivis, semuanya sudah pernah dilalui oleh Anton. Perjalanan Anton di dalam penjara juga terhitung sangat lama, yaitu 18 tahun 7 bulan.

Setelah lama malang melintang di “dunia hitam”, pria asal Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini akhirnya bertekad untuk hijrah ke jalan yang benar. Tekad baik ini tidak semata-mata timbul seketika, melainkan telah terakumulasi selama ia berada di dalam penjara. Selama di penjara, Anton rajin meneliti, membaca dan mempelajari banyak hal. Sehingga timbul rasa cintanya terhadap agama Islam.

Anton juga senantiasa didampingi oleh beberapa tokoh Islam seperti K.H. Zainuddin M.Z. (almarhum) dan K.H. Nur Muhammad Iskandar S.Q., sehingga Anton pun memantapkan diri untuk bersyahadat dan masuk ke agama Islam pada tahun 1992, setelah sebelumnya memeluk agama Buddha, Kristen dan Katolik. Setelah bersyahadat, Anton mulai aktif berceramah.

Pada mulanya, tidak mudah bagi Anton untuk berceramah di depan banyak orang, tak jarang ia juga mendapat penolakan. Namun Anton tidak menyerah. Ia tetap konsisten berceramah dan menganggap penolakan sebagai bentuk teguran untuknya agar ia terus belajar, maju ke depan dan diterima oleh berbagai kalangan. Menurut sang istri, Erisya Hapsari, dulunya Anton memiliki program dakwah ke seluruh penjara di Indonesia. “Khususnya kalau misalkan bulan Ramadan, dia selalu mengadakan program ini. Safari Ramadan. Jadi beliau itu memang punya visi itu berdakwah ke kalangan-kalangan yang memang mungkin untuk syiar Islamnya itu ke tempat-tempat yang seperti itu, ke lapas atau ke tempat prostitusi, karena seperti ini yang menurut beliau itu harus sering diberikan motivasi,” kenang Erisya.

Anak sulung Anton, Siti Novianti membenarkan bahwa sang ayah memang lebih sering memberikan ceramah ke tempat di luar masjid. Ia masih ingat betul dengan perkataan sang ayah ketika ia masih hidup. “Seingat saya beliau berkata bahwasanya saya bukan orang baik gitu lho. Saya orang yang berusaha untuk baik, begitu kan. Nah latar belakang saya adalah dunia hitam, saya harus kembali mengajak kepada saudara-saudara saya yang masih di dunia hitam. Karena beliau merasa bahwasanya saya bukan di masjid nih tempat saya gitu lho. Saya di luar, bersama orang-orang yang senasib dengan saya,” ucap Novi menirukan kata-kata sang ayah.

Tidak hanya gemar berceramah, Anton juga bekerja keras memperbaiki perekonomian, membuka usaha, mendirikan pondok pesantren, hingga membangun masjid. Dengan usahanya sendiri dan tanpa mengandalkan bantuan dari pemerintah, Anton membangun masjid bernama Masjid Jami Tan Kok Liong yang terletak di Cibinong, Bogor, Jawa Barat pada tahun 2005.

Semasa hidupnya, Anton juga membuka pelatihan wirausaha bagi mantan preman dan eks warga binaan sebagai bekal mereka untuk kembali di masyarakat. Endang adalah salah satu teman dekat Anton yang menjadi pengawas peserta pelatihan. Sama seperti Anton, Endang dulunya juga pernah menjajal kelamnya “dunia hitam”. Namun, semenjak ia mengenal Anton, ia banyak mengalami perubahan. Kini ia sudah memiliki keterampilan hidup dan diterima oleh masyarakat. “Alhamdulillah sih, ngikutin dia, sampai sekarang, sampai anak saya sekolah gitu, sampai bisa berhasil. Banyak perubahan,” ungkap Endang. Satu pesan Anton yang paling membekas di ingatannya adalah pesan akan pentingnya kejujuran.

“Kalau kita gak jujur, orang gak mungkin percaya. Kapan lagi kalau kita tidak berubah dari diri sendiri. Itu doang pesan dia sama saya,” kata Endang. Kini, Anton telah beristirahat dengan tenang di tempat peristirahatan terakhirnya yang terletak persis di samping Masjid Jami Tan Kok Liong.