Ilustrasi : Aktivitas meeting virtual menggunakan layanan aplikasi Zoom. (Foto/Canva). Ilustrasi : Aktivitas meeting virtual menggunakan layanan aplikasi Zoom. (Foto/Canva).

Selama pandemi, masyarakat dibatasi untuk melakukan aktivitas di luar rumah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Sudah lebih dari satu setengah tahun, berbagai macam kegiatan sekolah dan bekerja, dilakukan melalui gawai menggunakan aplikasi virtual meeting. 

Akibatnya, penggunaan platform komunikasi virtual yang berlebihan dapat menyebabkan kelelahan. Walaupun terbilang baru,  fenomena ini disebut dengan Zoom Fatigue Syndrome. 

Dokter Gabriella Tantular, Sp.KJ Spesialis Kedokteran Jiwa OMNI Hospital Cikarang, dalam program Bincang Sehati DAAI TV, menjelaskan bagaimana  virtual meeting dapat menyebabkan kelelahan. 

“Saat menatap layar dan memegang gawai terlalu lama, gawai akan memancarkan radiasi dan mengakibatkan kelelahan fisik dan mental. Zoom fatigue syndrom sendiri adalah perasaan khawatir yang berhubungan dengan pemakaian video conference.” ujar dr. Gabriella.

Alasan Virtual Meeting Sangat Melelahkan

Saat virtual meeting, otak manusia menyerap informasi dan  isyarat-isyarat nonverbal. Sehingga membutuhkan konsentrasi lebih tinggi daripada komunikasi secara tatap muka dan membuat anda cepat lelah. 

Berada depan kamera juga membuat perasaan seperti sedang diawasi, sehingga anda merasa harus menjaga penampilan dengan baik dan membuat stress, khususnya perempuan.

Gangguan lingkungan sekitar juga dapat menimbulkan kecemasan, seperti suara menggonggong,  menangis, atau berteriak. Hal ini dapat menimbulkan rasa cemas apabila terdengar saat melakukan virtual meeting.

Gejala Zoom Fatigue Syndrome

  • Adanya perubahan emosi setelah melakukan long-conference.
  • Perubahan perilaku untuk menghindari kontak virtual, seperti mematikan kamera.
  • Perasaan cemas dan khawatir saat menggunakan platform komunikasi virtual.
  • Mengalami penurunan kinerja.

Cara Mengatasi Zoom Fatigue Syndrome

Apabila anda mengalami zoom fatigue syndrome, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. 

Ambil waktu istirahat agar mata tidak kelelahan. Gunakan konsep 20-20-20. Ketika sudah menatap layar 20 menit, kita beralih menatap objek yang berjarak 20 kaki (enam meter) selama 20 detik.

Kurangi jadwal dan ganti metode komunikasi. Selain melakukan virtual meeting, berkomunikasi dapat dilakukan melalui email dan chat. Virtual meeting dapat dilakukan ketika ada hal yang penting saja.

Jangan mengundang terlalu banyak anggota ketika virtual meeting. Virtual meeting dapat dilakukan sesuai divisi agar efektif dan membuat suasana lebih nyaman.

“Kelelahan memang nyata, tapi bukan untuk menyerah, kita harus menghadapi dan mengalahkannya” imbau dr. Gabriella.

NR/IA

Saksikan Video Terkait :