hikikomori

Penulis : Akbar Fauzi

Editor : Grace Kolin

Pernahkah Anda mendengar istilah hikikomori? Dalam bahasa Jepang, hikikomori (引き籠も) berarti menyendiri atau membatasi diri. Istilah digunakan untuk menggambarkan fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dari kehidupan atau lingkungan sosial dalam satu periode yang melebihi enam bulan. 

Menurut Jovita Ferlina dalam program Bincang Sehati DAAI TV, ada beberapa faktor penyebab yang membuat seseorang bisa menjadi Hikikomori, “Penyebabnya biasanya adalah satu, adanya peristiwa kegagalan yang ia rasakan. Nah, kalau dari data dilihat kegagalan ini, bisa karena bullying di sekolah. berikutnya adalah karena dia merasa bahwa prestasi akademiknya itu tidak dapat dia capai, jadi dia merasa dirinya paling gak mampu dikelas, kemudian ada yang sampai tinggal kelas dan akhirnya melakukan hikikomori,”  ungkap Jovita.

Jovita juga menuturkan bahwa pola asuh yang kurang tepat bisa mengakibatkan seseorang melakukan hikikomori. Misalnya pola asuh orang tua yang senantiasa memfasilitasi anaknya secara berlebihan dan tidak membiarkan anaknya memiliki kesempatan untuk mengalami kegagalan. Pola asuh ini secara tidak langsung mengakibatkan anak kesulitan mengatasi kesulitan ketika menemui kegagalan, sehingga pada akhirnya ia memilih untuk melakukan hikikomori.

Kebanyakan penyakit ini diderita oleh orang dewasa yang berada pada kisaran umur 20-29 tahun. Bahkan ada beberapa kasus, hikikomori diderita oleh orang yang telah berusia lebih dari 50 tahun, dimana ia telah menarik diri dari lingkungan sosialnya selama puluhan tahun. Dari jenis kelamin, hikikomori lebih banyak dialami oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. 

Sebenarnya, hikikomori bisa dicegah dan diobati dengan menjalankan terapi untuk mengilangkan rasa stres, trauma dan depresi yang berlebihan. Sebagai keluarga terdekat, orang tua harus memberikan perhatian lebih. Jika anak sudah dirasa mengalami gejala ini secara berlebih, segera berikan pertolongan dengan membawa mereka berkonsultasi pada ahlinya, sehingga mereka bisa kembali menjalani hidup dengan normal dan bersosialisasi kembali.