Sumber : Independensi

Foto : dokumen keluarga John Lie

Pasca kemerdekaan, Indonesia membentuk Badan Keamanan Rakyat Laut (BKR Laut) sebagai upaya menjaga kedaulatan negara. Terbentuknya cikal bakal TNI AL itu membuat seorang warga keturunan Manado – Tionghoa terpanggil untuk mengabdikan dirinya kepada negara. Ia adalah Jahja Daniel Dharma atau yang lebih dikenal sebagai John Lie.

Berbekal pengalaman sebagai pelaut, dengan cerdik John Lie berhasil menjalankan berbagai misi-misi menembus blokade Belanda untuk mengantarkan pelayaran kapal yang mengangkut komoditas ekspor. Misi itu dilakukannya dalam rangka memenuhi kas negara.

John Lie juga memimpin pelayaran kapal yang menyelundupkan senjata dan amunisi untuk dipergunakan dalam perjuangan melawan Belanda. Atas jasa-jasanya tersebut, John Lie mendapatkan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2009 – kepemimpian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pengaruhnya dalam bidang kemaritiman negara, tak lepas dari karakter John Lie yang disiplin dan keras. Seperti yang disampaikan oleh cucu keponakan John Lie, Satyana Maryam  Liando, “beliau orangnya sangat disiplin, sangat keras. Jadi waktu itu di rumah dia disiplinnya keras, dia mengajarkan kita bangun pagi, jangan lupa berdoa, lalu baca Alkitab.”

Meski dikenal sangat disiplin, John Lie ternyata juga memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Satyana sering kali melihat langsung opanya memberikan uang dan mengajak orang-orang prasejahtera untuk makan di rumahnya lantaran John Lie tak suka melihat seseorang mengemis di jalanan.

“Kalau di jalan ketemu orang di lampu merah, dia selalu bilang ‘kamu tidak boleh mengemis di sini’ lalu dia keluarkan kartu nama sama dia kasih uang, ‘kamu harus ke rumah saya sekarang, saya nggak mau lihat kamu mengemis di sini’,” kenang Satyana.

John Lie juga sering mengingatkan cucu-cucunya untuk menjadi orang yang berani dan jujur. “Pokoknya kalau hati kita jujur, katanya, dan kita berpegang pada Tuhan itu pasti ada jalan,” ucap Satyana. Dari sosok opanya, Satyana belajar untuk disiplin dan tidak mudah menyerah dengan keadaan.

Hal lain yang dikenang Satyana atas nasionalisme sang kakek adalah perkataan John Lie soal orang pribumi dan non-pribumi. “Dia tidak suka yang namanya pribumi dan  non-pribumi, dia bilang yang disebut pribumi adalah orang yang mempertahankan bangsa Indonesia, yang benar-benar memperjuangkan. Tapi kalau yang disebut non-pribumi adalah orang yang korupsi,” kata Satyana mengingat perkataan sang kakek.

John Lie pensiun sebagai Laksamana Muda Angkatan Laut. John Lie meninggal pada 27 Agustus 1988 dan acara pemakamannya dilangsungkan setelah kehadiran Presiden Soeharto dari luar negeri. Pada tahun 1995, John Lie dianugerahi Bintang Mahaputera Utama.

Penulis : Gilang Syahbani

Video Terkait