Penulis : Akbar Fauzi
Editor : Grace Kolin
Indonesia memiliki banyak tradisi yang tersebar di seluruh penjuru daerah, salah satunya tradisi “jimpitan” yang berasal dari daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Jimpitan sendiri berasal dari kata ‘jumputan’ atau ‘menjumput’ yang artinya mengambil barang lembut atau kecil dengan menggunakan ujung telunjuk dan ibu jari.
Awalnya, jimpitan diidentikkan dengan pengumpulan beras yang diletakkan dalam wadah yang biasanya digantung di dekat pintu atau diikat di pagar rumah. Biasanya, jimpitan dilakukan secara kontinu dan besarannya disesuaikan dengan keikhlasan atau kerelaan pemberi. Jimpitan ini nantinya akan dikumpulkan dan dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan sesama warga sebelum digunakan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini pun mengalami penyesuaian, dimana beras digantikan dengan uang. Jimpitan dalam bentuk uang ini biasanya digunakan untuk kegiatan sosial atau pembangunan desa, seperti mengganti jasa ronda atau siskamling warga, membantu mensubsidi warga yang sedang membutuhkan, maupun mendukung kegitan-kegiatan desa lainnya.
Menurut ahli budaya Prapto Yuwono yang dilansir dari laman Portal Informasi Indonesia, tradisi ini lahir sejak warga desa di Jawa memiliki kesadaran untuk tinggal berkelompok dengan warga lain yang sama-sama memiliki kesulitan ekonomi pada masa penjajahan Belanda. Secara sadar dan sukarela, mereka menghimpun bahan pangan atau uang untuk disalurkan kepada warga sekitar yang membutuhkan. Dengan kata lain, tradisi ini merupakan simbol solidaritas dan ketangguhan masyarakat pedesaan dalam menghadapi kesulitan ekonomi sejak zaman penjajahan dulu.
Melihat banyaknya keunggulan dari pelaksanaan jimpitan ini, alangkah baiknya jika “jiwa” dari tradisi ini terus diselenggarakan, mengingat teknologi yang terus berkembang. Walaupun sedikit berbeda dengan melakukan jimpitan secara langsung ditambah dengan dengan adanya digitalisasi, tradisi ini harus tetap dilestarikan agar nilai-nilai yang bertumbuh di masyarakat dapat terus diaplikasikan dari satu generasi ke generasi lainnya.

