Penulis : Grace Kolin
Belakangan ini, istilah Fomo sering mengemuka dalam topik perbincangan anak muda. Apa itu Fomo? Fomo merupakan singkatan dari Fear of Missing Out, artinya suatu keadaan dimana seseorang takut untuk tertinggal dalam segala hal. Misalnya, takut ketinggalan informasi terkini hingga takut belum bisa mewujudkan pencapaian yang sudah diraih kebanyakan orang di usia tertentu, seperti memilki pekerjaan tetap, pasangan hidup, ataupun keturunan.
Keadaan ini tentu sangat terasa meresahkan bagi sebagian besar anak muda. Mereka menganggap hidup sebagai ajang perlombaan dan terkadang suka membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang.
Apa yang menyebabkan Fomo? Alexandra Gabriella, M.Psi. psikolog dari Smart Mind Center menjelaskan beberapa hal yang dapat membuat seseorang terkena Fomo, “Pertama mereka punya persepsi diri yang negatif. Merasa gak pernah cukup. Merasa selalu kurang dan ditambah dengan adanya norma atau value yang ditanamkan dalam masyarakat, standar-standarnya bagaimana mereka melihat orang yang sukses atau tidak, bagaimana mereka melihat orang yang settle dan belum settle. Jadi bukan medianya yang menjadi faktor utama. Tapi lebih ke pemahaman mereka terhadap diri di dalam lingkungan sosial, itu yang paling menentukan seseorang bisa terkena Fomo atau tidak.”
Menurut Alexandra, ada beberapa dampak yang dapat ditimbulkan Fomo, mulai dampak yang ringan seperti timbulnya perasaan tidak cukup, perasaan tidak diterima, cemas, frustasi, kesepian, hingga dampak yang paling ekstrem, yaitu fobia sosial.
Untuk sembuh dari Fomo, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Seperti melalui dukungan dari orang-orang sekitar. Mereka dapat membantu mengingatkan seseorang yang terkena Fomo untuk merasa cukup. Tidak hanya mengandalkan solusi secara eksternal, secara internal, orang yang terkena Fomo juga harus mau membuka mata terhadap keberadaan orang sekitar yang masih mau menghargai mereka, terlepas dari apakah mereka harus mengikuti tren atau tidak.
Alexandra menambahkan bahwa Fomo juga sebenarnya dapat dicegah dengan bijak menggunakan media sosial serta melakukan kegiatan yang mengharuskan seseorang untuk keluar,seperti berolahraga ataupun mengikuti kegiatan komunitas yang dapat membangun diri dan meningkatkan spiritualitas.
