Penulis : Akbar Fauzi
Editor : Grace Kolin
Di dalam ranah hukum, kita sering mendengar tentang alat pendeteksi kebohongan (lie detector) atau yang dikenal dengan poligraf. Alat ini kerap digunakan penegak hukum untuk membantu proses pemeriksaan atau penyelidikan suatu kasus tindak pidana. Bagaimana cara kerjanya?
Sesuai namanya, poligraf berfungsi untuk melihat atau mengetahui kejujuran seseorang melalui reaksi tubuh. Lebih jelasnya, poligraf adalah alat untuk memantau atau menguji reaksi fisiologis individu terhadap pertanyaan tertentu.
Alat ini tidak mendeteksi kebohongan secara nyata, namun hanya mendeteksi reaksi atau perubahan apa yang dihasilkan oleh seseorang ketika mengatakan sesuatu yang ia sadari tidak benar.
Cara Kerja Poligraf
Dilansir dari American Psychological Association (APA), alat poligraf pada dasarnya merupakan perpaduan dari alat kesehatan yang digunakan untuk memantau perubahan yang terjadi pada tubuh.
Poligraf memiliki sensor yang dipasang pada individu yang sedang mengikuti tes. Adapun jumlah sensor berkisar dari empat hingga enam, tergantung pada jenis mesin. Sensor ini biasanya merekam laju pernapasan, denyut nadi (denyut jantung), tekanan darah, dan keringat seseorang.
Data yang dikumpulkan selama tes poligraf akan direkam menggunakan instrumen analog dan dicetak pada selembar kertas yang bergerak dengan beberapa pena. Karena proses inilah, rekaman respons individu selama tes poligraf disebut dengan bagan poligraf.
Saat ini, sebagian besar tes poligraf menggunakan sistem pencatatan terkomputerisasi untuk mengumpulkan data. Proses tes ini berlangsung antara satu sampai tiga jam yang terdiri dari empat fase berbeda, yakni wawancara pra-tes, koleksi bagan, analisis bagan, dan wawancara pasca tes.
Menurut American Polygraph Association (sebagian besar terdiri dari pemeriksa poligraf), perkiraan akurasi poligraf bisa mencapai 87 persen, sehingga alat ini dinilai cukup akurat untuk membantu mendeteksi kebohongan.
Meski demikian, perdebatan mengenai akurasi alat ini masih terus bermunculan hingga saat ini, sebab ada yang mengungkapkan bahwa alih-alih kejujuran dan kebohongan, perubahan yang terjadi dapat dipicu oleh rasa gugup.

