Penulis : Grace Kolin

“Tapi aku gak mungkin marah pada orang tuaku. Akhirnya aku harus memendam itu. Dan pada akhirnya, sampai sekarang aku lebih sering memedam kemarahan sih.”

Sebagian orang ada yang dapat meluapkan kemarahannya, dan ada pula yang cenderung untuk memendam kemarahannya seperti pengalaman yang dibagikan Rin Putri dalam program Kumpul Keluarga DAAI TV di atas.

Menurut psikolog Jovita Ferliana, M.Psi yang juga turut hadir dalam program tersebut, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memendam kemarahannya. Seperti adanya budaya-budaya tertentu yang menganggap kemarahan itu sebagai suatu hal yang tidak baik dan tidak diperbolehkan.

Kemarahan yang terpendam, atau hidden anger, apabila terus menerus ditekan dan tidak ditampilkan, akan menjadi bom waktu yang meledak pada akhirnya. Meskipun tidak tampak karena dipendam, hidden anger dapat tampak dalam beberapa simtom seperti simtom fisik, emosi dan perilaku.

“Nah keluarnya ini bisa dalam simtom fisik, contohnya seperti sering mendapatkan sakit kepala, atau keluhan fisik lainnya seperti sakit perut, insomnia, tidak nafsu makan, jadi kenanya bisa ke fisik. Ada juga yang bisa kenanya ke emosi,” kata Jovita. Secara emosi, hidden anger juga dapat membuat seseorang menjadi tertekan hingga depresi atau melakukan pasif agresif, seperti menyakiti diri sendiri. Sementara secara perilaku, hidden anger dapat yang tampil dalam bentuk seperti:

  • Suka berkata sarkastik
  • Tidak dapat memegang komitmen secara ekstrim
  • Suka mengkritik orang lain
  • Perilaku-perilaku yang eksplosif, seperti membanting barang, memukul dan sebagainya

Tiap-tiap orang mengekspresikan hidden anger-nya dengan cara yang berbeda. Untuk dapat mengetahui apakah simtom yang timbul merupakan akibat dari hidden anger atau bukan, seseorang dapat melakukan sesi konsultasi atau sesi psikoterapi.

“Karena aku orangnya gak bisa meluapkannya dengan baik untuk kemarahan tersebut, akhirnya aku menangis. Dan setelah menangis, aku malah lebih lumayan baik sih. Lumayan better. Karena menangis itu bisa meluapkan emosi aku,” ucap Rin.

Apa yang dilakukan Rin adalah contoh ekspresi emosi atas kemarahan yang dipendamnya. Jovita sendiri setuju dengan perkataan Rin, dan menambahkan bahwa selain menangis, ekspresi terhadap hidden anger juga bisa dalam bentuk mengatakannya langsung pada orang yang bersangkutan, menulis, bermain musik, mengobrol dengan orang-orang yang dipercaya atau bahkan menghabiskan waktu untuk tidak melakukan apa-apa.

Beberapa orang, ada yang secara internal mampu menggerakkan dirinya untuk melepaskan hidden anger-nya dan ada pula yang harus didukung oleh lingkungan sekitar untuk membantu menurunkan kadar hidden anger dan memotivasi dirinya agar kembali produktif seperti sediakala.

“Jadi enggak harus nol ya. Karena terkadang perasaan ini masih perlu ada dalam diri kita dalam kadar yang masih bisa kita terima. Contohnya, gak mungkin kita mau bikin kemarahan di level 0. Karena kalau kita gak pernah marah, juga gak bagus kan. Dan marah itu kan merupakan suatu sistem pertahanan kita sehingga orang lain itu gak bisa semena-mena sama kita, orang lain juga tahu kita itu dihargai keberadaannya dan sebagainya,” pungkas Jovita.