Penulis : Grace Kolin

Stigma tato, tindikan dan pakaian urakan kerap melekat pada identitas anak punk jalanan. Namun, lewat didikan Pondok Pesantren (Ponpes) Tasawuf Undergound yang terletak di Ciputat, Tangerang, sejumlah santri yang berasal dari anak punk jalanan berhasil menemukan “jalan pulang” dan melawan stigma tersebut.

Di masa lalu, para santri di Ponpes ini pernah terlunta-lunta di jalanan, jatuh terperosok ke dunia yang kelam. Tidak hanya itu, mereka bahkan tak punya cukup alasan untuk pulang bertemu keluarga. Akan tetapi, semenjak mereka mengenal Ustad Halim Ambiya, pendiri dari Ponpes tersebut, mereka yang dulunya merasakan jalan hidup hampa, kini dapat menemukan arti Tuhan dalam kehidupan mereka masing-masing.

Di Ponpes ini, Ustad Halim Ambiya membangun pondasi kepada mereka, terutama para santri yang mengalami ketergantungan narkotika. Saat efek psikotropika datang, setiap santri dibimbing untuk memanjatkan zikir dan berdoa sebagai sumber kekuatan dan keteguhan diri.

Para santri memiliki lebih banyak waktu untuk lebih mengenal Allah dalam kegiatan mengaji di Ponpes ini. Dengan sabar, Ustad Halim Ambiya mengajarkan mereka cara melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengisi setiap ruang batin mereka yang membutuhkan ketenangan.

“Saya mengajak mereka untuk balik ke jalan. Ke jalan yang benar. Balik lagi pada tugas penciptaan. Dengan peta jalan pulang yang saya maksud, peta jalan pulang kepada keluarga dan dan peta jalan pulang kepada Tuhan. Peta jalan pulang kepada Tuhan mengembalikan mereka kepada kesadaran bahwa dia adalah seorang hamba yang bakal balik mati ke akhirat. Peta jalan pulang ke keluarga, dia harus tahu tujuan asal, bahwa dia harus kembali kepada keluarga,” ujar Ustad Halim Ambiya.

Erlangga Febriansyah adalah salah satu punk jalanan yang kini menjadi santri di Ponpes Tasawuf Underground. Ia pernah merasakan pahitnya hidup di jalanan demi menjauh dari retaknya hubungan keluarga. Dengan mondok dan tumbuh bersama saudara seiman di Ponpes ini, membuatnya terlepas dari jerat masa kelam itu.

“Kehidupan saya gini-gini aja. Bosan, kayak gak berguna. Tapi buat belajar bingung, minder lah. Gak ada yang menuntun, gak ada yang merangkul. Begitu disini, melihat perubahan dari teman-teman, terus cara beliau (Ustad Halim Ambiya) juga merangkulnya itu menyemangati,” ujar Erlangga.

Selain merangkul anak punk jalanan seperti Erlangga untuk kembali ke jalan yang benar, Ponpes Tasawuf Undergound juga memberikan keterampilan diri, seperti keterampilan berwirausaha, mengelola binatu dan mengelola kedai kopi. Bagi alumni santri berprestasi, disediakan pula kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi.