Penulis : Grace Kolin
Penat dengan hiruk pikuk perkotaan? Anda mungkin bisa mencoba healing ke Hutan Sikulikap, kawasan hutan asri di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Tidak hanya dimanjakan dengan hijaunya pepohonan pinus dan udara yang sejuk, pengunjung juga dimanjakan dengan Air Terjun Sikulikap, ‘surga tersembunyi’ di dalam Hutan Sikulikap.
Air terjun ini mempunyai tinggi sekitar 30 meter, dengan aliran airnya yang bersumber dari Taman Hutan Rakyat (Tahura) Bukit Barisan yang merupakan salah satu kawasan Hutan Lindung. Air yang jatuh dari atas melewati bebatuan yang berlumut terlihat sangat indah, ditambah dengan suara airnya yang membuat suasana semakin teduh.
Menurut masyarakat sekitar, nama Sikulikap pada objek wisata ini diambil dari nama satwa endemik hutan tersebut yaitu Sikulikap (dalam bahasa Karo) atau Lutung Kelabu. Selain air terjun, objek wisata ini juga menawarkan pengalaman seru mendirikan camp dan bermalam di hutan tropis. Beragam fasilitas seperti kamar mandi, saung dan spot-spot untuk berswafoto juga tersedia untuk menambah daya tarik objek wisata ini.
Selepas menjelajah kawasan Hutan Sikulikap, pengunjung bisa mampir ke El Sierra Coffee untuk melepas lelah sekaligus menikmati secangkir kopi. Dengan mengusung tagar #ngopidihutan, coffee shop ini menawarkan sensasi minum kopi asli dari Tanah Karo sembari menikmati suasana di tengah hutan yang asri.
“Kami gak nyangka secepat ini orang mengenal Sikulikap, kenapa? Karena ini kami anggap masih tahap pembenahan. Karena masih 30%, tapi antusiasme masyarakat sudah kami lihat udah agak lumayan, sampai kami jalan ke Medan pun, udah kenal rata-rata Sikulikap. Mungkin dibantu sama teman-teman media juga kan,” kata Kristian Ginting, Pengelola Objek WIsata Sikulikap.
Rata-rata pengunjung yang datang ke Hutan Sikulikap mencapai 20.000 – 30.000 pengunjung per bulannya. Untuk dapat menikmati objek wisata ini, pengunjung yang tidak membawa kendaraan hanya perlu membayar tarif masuk sebesar Rp 5000. Sementara untuk pengunjung yang membawa kendaraan dikenakan 20.000/unit motor dan 60.000/unit mobil.
Pengelolaan Hutan Sikulikap menjadi objek wisata dilakukan dengan tanpa merusak hutan. melainkan dengan menata instrumen wisata agar tetap selaras dengan hutan. contohnya, membangun jalan setapak di antara sela-sela pepohonan. Tidak hanya itu, para pengelola juga tak henti-hentinya mengedukasi para pengunjung agar senantiasa menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan. Kedepannya, mereka akan menambah tempat-tempat glamping dengan konsep di hutan dan spot-spot foto lebih banyak lagi di kawasan objek wisata ini.

