Melampiaskan stres dengan berbelanja

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda dalam stress relieve, atau melampiaskan stresnya agar tidak menumpuk dan membawa dampak negatif bagi dirinya. Ada orang yang melampiaskan stres dengan mendengarkan musik, travelling, hingga berbelanja.

Bagi sebagian orang, berbelanja dapat menjadi kegiatan yang ampuh untuk mengusir stres. Namun, jika tidak dilakukan dengan bijak, alih-alih mengusir stres, kegiatan ini dapat stress relieve yang tidak sehat serta mendatangkan stres yang baru. Tindakan seperti ini dikategorikan sebagai emotional spending. Melansir dari helloneu.com, emotional spending adalah perilaku ketika seseorang membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu ia butuhkan hanya karena ia dipengaruhi oleh gejolak emosi seperti perasaan bosan, jenuh, sedih, tertekan, atau merasa tidak bahagia. Biasanya, kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan suasana hati ke arah yang lebih baik dan positif.

Mengutip dari Lisa Duke, seorang financial counselor terkenal di Amerika Serikat, emotional spending ditandai dengan tagihan kartu kredit, pakaian yang tidak digunakan, barang-barang yang ditelantarkan, hingga paket yang disembunyikan karena tidak ingin ketahuan oleh orang-orang di rumah.

Tidak hanya itu, perilaku emotional spending juga diperlihatkan ketika timbul perasan menyesal setelah berbelanja karena baru sadar telah menghamburkan uang. Aktivitas ini patut diwaspadai, terlebih ketika pengeluaran sudah melewati ambang batas maksimal dan timbul ketergantungan dalam penggunaan kartu kredit untuk kebutuhan sehari-hari.

Agar kegiatan belanja tidak membawa dampak buruk dalam kehidupan, ada beberapa cara yang dapat dipraktikkan untuk mengontrol emotional spending, seperti yang dilansir dari laman helloneu.com dan koinworks.com:

1. Terapkan 48-Hours Rule

48-hours rule dapat diterapkan dengan menulis nama barang-barang yang biasanya ditaruh di shopping cart ke dalam notes yang ada di gawai beserta harga yang tertera. Sebelum checkout, tunggu dulu selama 48 jam untuk menanyakan pada diri sendiri apakah barang itu benar-benar dibutuhkan atau  tidak. Waktu 48 jam ini dipercaya bisa membantu seseorang untuk berpikir dan mengambil keputusan lebih objektif sebelum mengeluarkan uang.

2. Cari Kegiatan Alternatif

Jika seseorang sering menjadikan belanja sebagai kegiatan untuk refreshing, distraction, atau coping mechanism, ia dapat mencari kegiatan lain yang juga bisa memberikan after-effect yang serupa. Seperti, menonton series favorit, membaca buku, atau berolahraga.

3. Rencanakan goals hidup

Emotional spending biasanya terjadi karena tidak adanya tujuan hidup yang menuntun seseorang untuk berjalan ke arah yang lebih baik. Dengan adanya goals hidup, seseorang akan cenderung lebih mampu memilah mana yang harus dipenuhi dan mana yang tidak. Ia juga akan berpikir apakah keputusan yang sudah dibuat sudah sesuai dengan tujuan hidup atau tidak.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber