Penulis : Grace Kolin
Tanggal 29 April diperingati sebagai Hari Tari Internasional. Peringatan ini diselenggarakan sejak tahun 1982 dengan tujuan untuk mempromosikan keanekaragaman talenta para penari di seluruh dunia. Di Kota Medan, Sumatera Utara, terdapat salah satu sanggar tari yang terdiri dari para penari yang masih melestarikan tarian di Pulau Sumatera. Namanya Sanggar Tari Medan Club Dance Company atau MCDC Indonesia. Sanggar tari yang terletak di Kelurahan Pasar Merah Timur, Kota Medan ini didirikan oleh Muhammad Nursyam atau yang akrab disapa dengan Manchu.
Manchu adalah sosok yang peduli dengan dunia seni tradisional. Ia sangat memperhatikan betul bagaimana para penari mulai berlatih di sanggar yang ia dirikan sejak tahun 2000 ini. Lewat sanggar ini, ia ingin memberikan warna baru dalam iklim kesenian di Kota Medan. Uniknya, Manchu tidak memungut biaya sama sekali bagi orang yang ingin datang belajar tari di sanggarnya. Upaya ini adalah salah satu bentuk strategi yang ia lakukan untuk mengajak anak-anak muda untuk kembali mencintai seni budaya mereka sendiri.
Tidak hanya di Indonesia, Manchu dan tim sanggar tarinya juga menampilkan tarian tradisional ke Asia Tenggara bahkan India. Pada 2015 silam, sanggar tari miliknya diundang untuk menari di Jawaharlal Nehru University, salah satu universitas di New Delhi, India. Hal ini menjadi sebuah kebanggaan bagi Manchu dan timnya, lantaran bisa membawa nama Indonesia sekaligus memperkenalkan keanekaragaman budaya khususnya di Pulau Sumatera. “Alhamdulillah, pada event tersebut banyak tokoh-tokoh yang hadir dan mengapresiasi pertunjukkan kita,” ujar Manchu.
Kecintaan Manchu pada seni tari daerah juga menular pada anak didiknya, tidak terkecuali Putri Utami, putri daerah asal Kutacane, Aceh Tenggara. Semenjak bergabung di sanggar tari ini, kecintaan Putri terhadap tari tradisional tumbuh menjadi suatu rasa bangga terhadap daerah asalnya. Tidak hanya itu, kini Putri juga merasakan bahwa menari sudah menjadi bagian dari hidupnya.
“Bagi saya kan tari itu hanya sekedar hiburan aja, gak ada esensi yang lain gitu. Ternyata guru saya membawa perubahan disana. Saya melihat, ternyata tari itu tidak hanya sekadar bergerak saja. Ternyata ada nilai yang bisa kita lihat disana, ada keindahan, kemudian ada kreasi dan sebagainya. Dengan tari, saya mewujudkan impian membangun daerah saya sendiri sebenarnya. Jadi saya ingin menciptakan gimana pemuda-pemudi itu bangga dengan apa yang mereka punya, salah satunya adalah tari. Karena di era sekarang, anak-anak melihat tari tradisional itu sudah ketinggalan zaman,” kata Putri.
Di mata Manchu, seni harus lebih dipedulikan, karena seni adalah bagian dari masyarakat. Itulah mengapa ia menciptakan sebuah tarian bernama “Ketika Peduli Tidak Ada di Hati”. Tarian ini menjadi kritik bagi masyarakat agar lebih peduli terhadap seni dan budaya.
“Kesenian itu kan hidup di tengah masyarakat ya. Dia memang hadir dari masyarakat, hidup di tengah masyarakat. Harusnya seperti itu sih. Nah mimpi sederhana saya seperti itu. Jadi seni itu seperti kebutuhan. Jadi kalau kita tidak bersentuhan dengan kesenian, rasanya ada sesuatu yang hilang,” ucap Manchu. Ia berharap dengan mengenalkan tarian tradisional kepada generasi muda lewat Sanggar Tari MCDC Indonesia, rasa cinta mereka akan tanah air dapat tumbuh dan bertambah.
