Penulis : Grace Kolin

Menjadi anak jalanan bukan berarti tidak memiliki masa depan. Hal ini dibuktikan Adi Supriyadi, pendiri Yayasan Senja Cibinong, yang dikenal sebagai Sanggar Senja di Jawa Barat. Lewat sanggar yang ia dirikan pada tahun 2011, Adi ingin mengubah image anak jalanan yang dianggap tidak berguna menjadi anak yang berakhlak mulia.

“Karena rasa prihatin saya, saya punya mimpi, anak-anak yang baik dan buruk kan tergantung kita. Mau cacat atau tidak itu rasa kasih sayang kita. Ya janganlah membeda-bedakan cinta dan kasih sayang kita terhadap anak-anak yang malang, anak-anak yang cacat,” ujar Adi dalam program Mimpi Jadi Nyata DAAI TV.

Tidak seperti sekarang, awalnya, Sanggar Senja memiliki nama Sanggar Terjal, yang merupakan akronim dari Terbuang di Jalan. Meski nama ini dianggap brutal, namun bagi Adi, di balik kebrutalan yang menjadi realita dari kehidupan anak jalanan, ada kebaikan yang terselip di dalamnya. Berselang waktu, sanggar ini kemudian berganti nama menjadi Sanggar Senja atau Secerah Anak Negeri Jaya.

Dari sekitar 130 anak yang dibina, 22 di antaranya tinggal dan menetap di Sanggar Senja. Untuk membiayai sanggar, Adi mencari penghasilan dari menciptakan lagu. Dari lagu-lagu yang berhasil terjual, ia pun membeli sound system. Bermodalkan sound system, ia membuat studio musik dan menyewakannya. Tidak hanya itu, ia juga ikut menyewakan sound system-nya untuk menambah dana sanggar.

Melalui sanggar ini, sebanyak 50 anak jalanan sudah disekolahkan atau mengikuti pendidikan formal. Selain untuk anak-anak yang pernah putus sekolah, mereka diikutkan dalam pendidikan paket A, B, dan C. Anak-anak di Sanggar Senja tidak hanya sekadar belajar, namun juga dapat mengikuti kegiatan lainnya seperti bermusik di studio, pencak silat, hingga mengikuti pengajian bagi yang muslim.

Evelyn, merupakan salah satu anak yang telah bergabung di Sanggar Senja sejak ia berumur tiga tahun. Kini, anak yang pernah berjumpa dengan Iriana Joko Widodo ini telah berusia 12 tahun. “Sanggar senja itu banyak temannya. Aku senang terus,” kata Evelyn sambil tersenyum.

Selain memperjuangkan akses pendidikan untuk anak jalanan, Adi dan sanggarnya juga berjuang mengatasi krisis identitas yang dialami oleh anak jalanan. Mengutip dari detik.com, per 2018, Sanggar Senja sudah menerbitkan 120 akta kelahiran dari anak jalanan dengan mengatasnamakan anak ibu dan anak negara.