Makanan yang belum lama jatuh di lantai.

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Pernahkan Anda mendengar kalimat “Ah, belum lima menit. Masih bisa dimakan”?

Kalimat yang terdengar akrab di telinga masyarakat Indonesia ini seringkali diucapkan kala mengambil makanan yang belum lama jatuh ke lantai. Biasanya perilaku ini didasari karena perasaan sayang untuk membuang makanan tersebut atau menganggap makanan tersebut masih layak dimakan dan belum sempat terkontaminasi bakteri karena lantainya tampak bersih.

Perilaku ini tidak hanya populer di kalangan orang Indonesia saja. Orang-orang di luar negeri juga suka melakukan hal yang serupa. Perbedaanya adalah, mereka menggunakan istilah “three-seconds rule” atau “five seconds rule” yang memiliki durasi lebih cepat dari hitungan 5 menit. Meski kebiasaan ini sering dianggap wajar, namun apakah mengonsumsi makanan yang baru jatuh ke lantai itu aman untuk kesehatan? Atau justru berbahaya?

Nyatanya, tidak butuh waktu yang lama bagi bakteri untuk mengontaminasi makanan yang baru jatuh ke lantai. Bahkan, lantai yang terlihat bersih juga dapat menjadi sarang bakteri. Menurut penelitian yang dilakukan Jillian Clarke, seorang siswa magang di University of Illionis dan rekan-rekannya, bakteri seperti E.coli dapat berpindah dari lantai ke makanan hanya dalam waktu lima detik.

Durasi ini bahkan bisa lebih cepat pada makanan yang mengenai permukaan ubin yang halus. Sementara untuk makanan jatuh pada lantai yang basah atau karpet yang lembab, akan memiliki peluang yang lebih besar untuk tercemar pathogen seperti salmonella, listeria dan E. coli. Lalu apakah seseorang bisa jadi sakit dengan mengonsumsi makanan yang baru jatuh ke lantai? Menurut, Paul Dawson, PhD, seorang profesor ilmu pangan di Clemson University, kemungkinan untuk jatuh sakit karena memakan makanan yang jatuh ke lantai itu sangat kecil.

Namun ada kelompok usia tertentu yang berisiko tinggi untuk sakit jika mengonsumsi makanan dalam kondisi tersebut menurut Randy Worobo, PhD, profesor mikrobiologi makanan di Cornell University. Contohnya seperti anak kecil di bawah enam tahun atau lansia berusia 70 tahun atau lebih. Hal ini dikarenakan mereka memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber