Penulis : Grace Kolin

“Almarhum orang tua saya berkata, kalau kita mau jadikan diri kita contoh, maka diri kita dulu yang berbuat. Selama ini saya sudah banyak berkegiatan di luar gitu kan. Tapi saya sangat pengen berkegiatan di rumah literasi yang saya dirikan sendiri.” – Lukman Tambusai (Pendiri Literasi Yayasan Kesejahteraan Anak Pesisir Indonesia)

Karena kepeduliannya dan keprihatinannya terhadap nasib pendidikan anak-anak pesisir, Lukman Tambusai, seorang pemuda asal Kabupaten Langkat, Sumatera Utara mendirikan rumah literasi di atas rumah peninggalan orang tuanya. Rumah literasi yang terletak di Kelurahan Pekan Gebang ini ia beri nama Rumah Literasi Yayasan Kesejahteraan Anak Pesisir Indonesia.

Pendirian rumah literasi ini bekerjasama dengan Yayasan Kesejahteraan Anak Pesisir Indonesia Dan Forum Anak Kabupaten Langkat. Di rumah literasi ini, anak-anak pesisir yang ada di sekitar Pekan Gebang bisa bermain dan belajar. Seperti belajar mengenal huruf, membaca, menulis, berhitung, dan dibimbing dalam mengerjakan tugas sekolah.

“Kenapa rumah literasi ini berdiri ya, karena memang dari orangtua saya dulu kan, saya ingin sekali bagaimana pendidikan anak-anak yang ada di pesisir, khususnya di Kelurahan Pekan Gebang, Kabupaten Langkat ini bisa mengakses pendidikan dengan baik gitu kan, karena almarhum orang tua saya berkata, kalau kita mau jadikan diri kita contoh, maka diri kita dulu yang berbuat. Selama ini saya sudah banyak berkegiatan di luar gitu kan. Tapi saya sangat pengen berkegiatan di rumah literasi yang saya dirikan sendiri,” terang Lukman.

Sekitar 25 anak rutin belajar di rumah literasi yang buka setiap hari ini. Untuk mengajar dan membimbing mereka, Lukman dibantu oleh para relawan dari Forum Anak Kabupaten Langkat. Selain pendidikan akademik, rumah literasi ini juga mengajarkan kesenian bela diri dan menari kepada anak-anak, tujuannya agar mereka tidak merasa bosan sekaligus meningkatkan kemampuan serta bakat mereka.

Tidak ketinggalan, anak-anak didik di Rumah Literasi Yayasan Kesejahteraan Anak Pesisir Indonesia juga diajak untuk mengaji dan melaksanakan sholat lima waktu. Ini dilakukan agar mereka terbiasa melakukan hal-hal wajib, sesuai dengan perintah agama.

“Respon masyarakat banyak yang antusias, terutama dari kalangan ibu-ibu, kemudian bapak-bapak, dikarenakan memang di masa pandemi ini, pendidikan anak mungkin agak terganggu gitu kan. Karena e-learning dan zoom, sehingga mengurangi produktif anak belajar di rumah gitu kan. Hadirnya rumah literasi ini juga sebagai mendampingi anak-anak untuk belajar di rumah,” katanya.

Kehadiran Rumah Literasi Yayasan Kesejahteraan Anak Pesisir Indonesia membawa dampak positif pada anak-anak di wilayah pesisir ini. Anak-anak yang biasanya dibiarkan bermain dan kurang mendapatkan bimbingan belajar dari orang tua kini menjadi lebih rajin belajar.

Salah satu anak didik rumah literasi ini, Nilam Firza, siswi yang duduk di kelas 1 SMP ini merasa senang dengan adanya Rumah Literasi Yayasan Kesejahteraan Anak Pesisir Indonesia. Ia dan teman-temannya bisa mengisi waktu luang dengan belajar dan bermain bersama.

“Karena yang ngajarinnya baik, habis itu ramah, enggak marah-marah gitu, habis itu pun tempatnya bersih gitu. Jadinya tertarik gitu masuk sini. Kami disini diajari matematika, habis itu diajarin sopan santun, diajarin pelajaran yang mulia gitu lah. Habis itu diajarin nari, diajarin silat. Habis itu kami sembahyang sama-sama,” ucap Nilam.