Sumber Gambar : Canva Pro
Penulis : Grace Kolin
Bagi umat Islam, lebaran atau Hari Raya Idul Fitri merupakan momen sekali setahun yang istimewa. Tidak hanya identik dengan momen silaturahmi dan saling bermaaf-maafan, lebaran juga identik dengan kebiasaan sebagian besar masyarakat seperti membeli baju baru, memasak hidangan khas lebaran, menyalakan kembang api, berbagi THR hingga melakukan perjalanan mudik. Sambil merayakan Hari Kemenangan, seseorang dapat melakukan hal berarti lainnya seperti memaknai kebermanfaatan diri sendiri untuk lingkungan di hari yang fitri. Caranya dengan mengisi waktu lebaran dengan kegiatan yang ramah lingkungan, seperti:
1. Mengenakan baju yang masih ada
Hari raya mendorong kebanyakan orang untuk tampil dengan penampilan terbaik, salah satunya menggunakan baju lebaran baru. Meskipun begitu, penampilan terbaru juga dapat diraih dengan menggunakan baju yang masih ada di lemari. Misalnya, baju lebaran tahun-tahun sebelumnya yang masih dalam kondisi bagus. Mengenakan baju yang masih ada sama dengan menerapkan gerakan slow fashion untuk mengurangi sampah fashion dari limbah tekstil. Namun bukan berarti, dalam gerakan ini seseorang tidak boleh membeli baju baru sama sekali. Tidak ada yang salah dengan membeli baju baru, asalkan jika benar-benar dibutuhkan. Tidak hanya sekadar karena ingin, tergiur tren, atau diskon.
2. Ambil makanan secukupnya
Ketika lebaran, sebagian masyarakat memasak lebih banyak makanan untuk menjamu tamu-tamu yang datang bersilaturahmi ke rumah. Meskipun semua makanan tersebut tampak enak dan menggiurkan, sebagai tamu, alangkah baiknya mengambil makanan secukupnya untuk dimakan dan tidak berlebihan. Masing-masing tamu bertanggung jawab atas makanan yang ada di piringnya dan usahakan untuk menghabiskan makanan yang telah diambil agar tidak menimbulkan sampah makanan.
Hal sepele seperti sampah makanan ternyata juga dapat menyebabkan pemanasan global. Saat kita membuang sampah makanan, maka sampah-sampah tersebut akan dibawa dan terkubur di tempat-tempat pembuangan sampah. Saat sampah yang berada paling bawah mengalami pembusukan, terbentuklah gas metana. Gas metana akan merusak lapisan ozon bumi karena gas metana termasuk gas-gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan pemanasan global.
3. Transfer THR secara daring
Momen membagikan amplop berisi THR adalah momen yang umum dijumpai kala lebaran. Setelah uang THR-nya diambil, kemungkinan besar amplop tersebut akan dibuang dan berakhir menjadi sampah. Agar lebih ramah lingkungan, penggunaan amplop dapat diganti dengan mentransfer uang THR secara daring. Saat ini teknologi telah mempermudah manusia untuk mengirim uang kemana saja dan dimana saja melalui fitur e-banking ataupun dompet digital. Selain ramah lingkungan, transfer THR secara online juga lebih aman di masa pandemi, karena dapat mengurangi risiko infeksi virus Covid-19 menempel pada uang, kartu kredit, atau dari tangan ke tangan lainnya.
4. Hindari penggunaan wadah sekali pakai yang tidak ramah lingkungan
Pengunaan wadah sekali pakai dalam menghidangkan makanan atau minuman kepada tamu lebaran yang datang berkunjung memang memiliki sejumlah kelebihan. Selain praktis, tuan rumah tidak perlu bersusah payah membereskan wadah sekali pakai tersebut, tinggal dikumpulkan lalu dibuang.
Namun di sisi lain, penggunaan wadah sekali pakai juga memiliki kekurangan. Umumnya, wadah sekali pakai terbuat dari bahan yang tidak ramah lingkungan seperti plastik dan styrofoam. Kedua jenis bahan ini membutuhkan waktu yang lama untuk terurai di lingkungan. Jika limbah ini terus berakumulasi, maka keberadaan limbah ini dapat membebani lingkungan dan bumi. Untuk itu, agar lebih ramah lingkungan, penggunaan wadah sekali pakai yang tidak ramah lingkungan dapat diganti dengan wadah sekali pakai yang lebih ramah lingkungan, contohnya daun pelepah pisang.
5. Hindari Penggunaan kembang api
Biasanya kembang api dinyalakan untuk memeriahkan malam takbiran. Namun, dampak kembang api terhadap lingkungan ternyata tidak terlalu bagus. Dilansir dari bobo.grid.id, Selain menghasilkan polusi suara, kembang api yang terbakar akan menghasilkan zat-zat sisa yang menjadi polusi udara. Misalnya seperti sulfur dioksida (SO2), karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), dan beberapa bahan garam logam seperti aluminium, mangan, dan cadmium.
6. Kirim hampers lebaran dengan kemasan ramah lingkungan
Tidak ketinggalan, kebiasaan saling berkirim hampers juga ikut mewarnai hari lebaran. Agar kemasan hampers tidak berakhir jadi sampah, seseorang dapat mengganti kemasan hampers-nya dengan bahan yang lebih ramah lingkungan dan dapat digunakan kembali. Contohnya seperti kemasan dari kain yang dipraktikan oleh masyarakat Jepang lewat tradisinya, furoshiki. Tradisi Jepang ini dapat menjadi solusi jitu dalam mengatasi penggunaan plastik dalam mengemas hampers. Selain itu, kain yang digunakan sebagai pembungkus hampers nantinya juga dapat digunakan kembali untuk keperluan lainnya.
7. Mudik menggunakan transportasi umum
Melakukan mudik dengan transportasi umum secara tidak langsung dapat mengurangi volume kendaraan di jalan dan kemacetan lalu lintas. Kelebihan lainnya, secara tidak langsung aksi ini dapat mengurangi jejak karbon yang beredar di lingkungan.
8. Silaturahmi Daring
Di zaman mudahnya mengakses teknologi, seseorang tidak perlu khawatir tak dapat bersilaturahmi dengan rekan, teman atau kerabat karena terpisah oleh jarak yang jauh. Dengan adanya teknologi video call, seseorang dapat tetap menjalin tali silaturahmi secara daring dan bermaaf-maafan meski terpisah oleh jarak.
Artikel ini dibuat dari berbagai sumber
