Kaum lansia menjadi lebih rentan untuk terjatuh.

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Penurunan fungsi tubuh tidak dapat dihindari, terutama saat seseorang telah memasuki usia senja. Umumnya, penurunan fungsi tubuh ini juga disertai dengan penurunan fungsi keseimbangan dan gerak tubuh, sehingga membuat kaum lansia menjadi lebih rentan untuk terjatuh. Insiden jatuh pada lansia sekilas memang tampak tidak terlalu serius. Namun, apabila hal ini terjadi pada lansia secara berulang-ulang, maka mereka dapat mengalami beberapa masalah serius di kemudian hari, seperti yang dikutip dari sehatq.com:

  • Hematoma epidural

Ketika lansia terjatuh, kemungkinan besar kepalanya akan menghantam lantai dan menyebabkan otaknya terbentur dengan tengkorak. Akibatnya, beberapa sel otak, dinding otak, atau pembuluh darah di otak akan pecah. Kerusakan tersebut memicu perdarahan di antara lapisan pelindung di sekeliling otak dengan tengkorak. Dalam dunia medis, kondisi ini disebut dengan hematoma epidural. Jika tidak segera ditangani, hematoma epidural dapat mengakibatkan kehilangan kesadaran dan bahkan kematian.

  • Cedera saraf tulang belakang

Cedera saraf tulang belakang pada orang yang berusia di atas 65 tahun seringkali disebabkan akibat kecelakaan karena jatuh. Cedera semacam ini bisa mengakibatkan perubahan permanen bahkan kecacatan pada fungsi tubuh,

  • Gegar otak

Kecelakaan karena jatuh juga dapat menyebabkan gegar otak atau hilangnya fungsi normal otak secara sementara. Gegar otak bukanlah hal sepele dan harus ditangani dengan serius, dikarenakan keadaan ini dapat berpengaruh pada memori, refleks, daya nalar, cara berbicara, koordinasi otot, dan keseimbangan tubuh.

  • Keretakan tengkorak

Benturan kuat seperti hantaman saat kecelakaan akibat jatuh dapat mengakibatkan keretakan pada tengkorak. Beberapa gejala ringan yang dapat dirasakan adalah mual, penglihatan kabur, hilangnya keseimbangan, leher yang kaku, sakit kepala, muntah, gelisah, mudah marah, kebingungan, rasa kantuk yang berlebih, pingsan, dan pupil yang tidak bereaksi terhadap cahaya.

Sementara untuk gejala berat dapat berupa rasa sakit yang parah, pembengkakan, kemerahan, dan sensasi hangat di daerah yang terbentur, dan memar pada daerah yang cedera, di bawah mata, atau di belakang telinga.

  • Cedera aksonal difus (diffuse axonal injury)

Cedera aksonal difus disebabkan oleh goncangan otak bolak balik yang disebabkan salah satunya karena terjatuh. Cedera ini merupakan salah satu cedera otak paling umum dan yang paling parah.

Dikutip dari geriatri.id, ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mencegah risiko jatuh pada lansia:

  • Latihan keseimbangan dan cara berjalan.
  • Latihan gaya berjalan, koordinasi dan pembebanan untuk meningkatkan kekuatan.
  • Gunakan penerangan yang baik dan terang di tempat tinggal.
  • Di kamar tidur, lengkapi tombol lampu yang mudah digapai oleh lansia.
  • Hilangkan ujung-ujung atau pinggiran karpet yang menekuk.
  • Rapikan barang-barang yang berserakan.
  • Gunakan toilet duduk yang ada pegangannya.
  • Tambahkan karpet anti slip di kamar mandi dan pegangan (handreel) pada lantai yang berundak.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber