Scara cup buatan mahasiswa UNPAD (Foto: unpad.ac.id)
Mahasiswa Universitas Padjajaran (UNPAD) memanfaatkan limbah kulit biji kopi menjadi gelas yang bisa dimakan.
Kelima mahasiswa ini, adalah Ardhia Pramesti (Teknologi Pangan), Widya Silva Gramita (Teknologi Pangan), Sabrina Maharani Putri (Teknologi Pangan), Afina Viany Judawisastra (Teknologi Pangan), dan Fahruni Alya Jasminea Bayuaji (Teknologi Pangan).
Berbekal riset dan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah, mereka mengembangkan sebuah produk ramah lingkungan bernama “Scara Cup”.
Pengembangan produk tersebut, dibimbing oleh dosen Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP), Dr. Gemilang Lara Utama Saripudin, S.Pt., M.I.L.
Mengutip dari situs web UNPAD, Scara Cup sendiri merupakan produk edible cup yang dikembangkan dengan memanfaatkan kulit biji kopi.
Pengembangan produk ini juga memanfaatkan bahan-bahan lain, yakni tepung terigu, telur, butter, gula, dan cokelat. Cokelat digunakan untuk melapisi bagian dalam Scara Cup yang berfungsi untuk mencegah cairan agar tidak rembes.
Pengembangan Scara Cup bertujuan untuk membantu mengurangi limbah pangan berupa kulit biji kopi. Pasalnya, kulit biji kopi dinilai bisa menyebabkan pencemaran limbah yang tinggi.
“(Pembuatan Scara Cup) bertujuan untuk mencegah pencemaran limbah yang mana kulit biji kopi bisa menyebabkan pencemaran limbah organik yang besar,” ujar Widya dikutip dalam keterangannya, Senin (30/10).
Scara Cup memiliki banyak manfaat. Selain bisa dijadikan wadah minuman, produk yang berhasil memperoleh pendanaan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek RI ini, juga bisa dijadikan sebagai camilan yang mengenyangkan.

“Scara Cup itu, kan, edible cup. Jadi, fungsinya bisa sebagai wadah minuman. Bisa berupa kopi, susu, cokelat, dan teh. Selain itu, bisa juga dijadikan camilan yang mengenyangkan. Jadi, Scara Cup itu bisa dijadikan camilan dan wadah (minuman),” tambah Widya.
Scara Cup juga memiliki ketahanan yang baik. Jika diisi cairan bersuhu normal, Scara Cup bisa bertahan hingga 6 jam. Sementara itu, jika diisi cairan air bersuhu tinggi, Scara Cup mampu bertahan selama 30 menit.
Demi memasarkan produknya, mahasiswa pengembang Scara Cup telah melakukan sejumlah upaya. Di antaranya adalah mengikuti pameran bertema lingkungan, membuka pre-order di laman Instagram @scara.cup, hingga bekerja sama dengan sejumlah kedai kopi.
Adapun target pemasaran Scara Cup adalah masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap kopi. Selain itu, target pemasaran Scara Cup juga ditujukan kepada masyarakat yang memiliki kesadaran terhadap isu-isu lingkungan.
Ke depannya, para mahasiswa ini berharap Scara Cup bisa dikenal lebih luas oleh masyarakat. Selain itu, mereka juga berharap jangkauan pemasaran Scara Cup bisa lebih luas.
“Harapannya, kami ingin Scara Cup dikenal lebih oleh masyarakat luas. Kami juga ingin jangkauan pemasarannya lebih luas, tidak hanya di Jatinangor dan sekitarnya saja,” tutup Ardhia.

