Penulis : Grace Kolin
Ada berkah di balik pandemi. Ungkapan ini dirasakan oleh Irawan, pelaku usaha mebel. Selama pandemi, keadaan usahanya yang sepi dari pembeli, ia terpaksa menghentikan produksi mebel-nya. Tak ingin habis akal, ia pun mencoba beralih membuat produk wastafel portabel dari drum bekas karena melihat gencarnya sosialisasi mencuci tangan selama pandemi.
Ia yakin produknya tersebut dapat memenuhi kebutuhan pasar terhadap alat kebersihan praktis. Tak disangka idenya ini mendapat sambutan baik dari masyarakat. Pasalnya sudah dua bulan sudah terjual 50 wastafel portabel. Selain itu, mebel unik buatannya juga diminati oleh pelaku usaha di bidang restoran.
“Wastafel portabel makin dibutuhkan waktu itu kita jadi untuk saat ini order-nya sangat banyak, sebelumnya kita hanya mengerjakan furnitur dari drum, cuman untuk di rumah ini, kita lebih banyak ke wastafel,” ujar pria asal Blitar ini.
Pembuatan wastafel portabel dilakukan Irawan di rumah produksi yang ada di kawasan Tangerang Selatan, Banten. Setiap hari Irawan dibantu oleh satu pekerja. Terkadang, ia menghadapi kendala ketika tidak semua drum bekas yang akan diolah mulus seperti drum baru. Alhasil ia harus lebih teliti dalam melihat bagian drum mana yang penyok untuk diratakan dan bagian drum mana yang sudah berkarat untuk segera diamplas.
Tahap selanjutnya adalah mengukur dan memotong bagian drum untuk dipasangi pintu. Lalu masuk ke tahap pengecatan dasar yang berfungsi agar warna cat yang dipakai selanjutnya dapat kontras terlihat dan tahan lama. Setelah pengecatan selesai, drum pun siap dipasang wadah pencuci tangan dan pintu.
Wastafel portabel Irawan dijual melalui media sosial, dengan harga bervariasi, tergantung dari bagian dan kompartemen wastafel yang dipakai. “Untuk kisaran harga kita dari harga 900 sampai harga dua juta dua ratus. Itu karena ada yang pakai keran manual, ada juga pakai yang keran sensor otomatis yang bikin mahal,” kata Irawan.

