Penulis : Grace Kolin

Memiliki keterbatasan fungsi anggota tubuh tidak membatasi sejumlah penyandang disabilitas tunarungu dalam bekerja mencari nafkah. Berbagai profesi juga sangat terbuka lebar untuk mereka lakoni, termasuk profesi sebagai pengendara ojek online. Di Jakarta terdapat komunitas pengendara ojek online disabilitas bernama Elite Squad Fighter atau ESF.

Di dirikan pada tahun 2017, komunitas yang memiliki 80 anggota penyandang tunarungu ini bertujuan menjadi wadah dalam belajar isyarat tangan, saling berbagi pengalaman untuk menjadi pengemudi ojek online serta memberi motivasi bagi penyandang disabilitas tunarungu yang ingin menjadi pengemudi ojek online.

“Saya sendiri pengin tonjolin mereka saat ini biar masyarakat luas tu lebih peka. Dari awal saya niatnya gitu. Kawan-kawan ini tidak bisa mendengar dan bicara gitu. Tapi mereka masih bisa bawa motor, terus masyarakat luas juga lebih melek lagi matanya, ngelihat ini lho ada kawan-kawan disabilitas yang bisa bekerja dengan penuh semangat mencari uang halal,” ujar Fika Chasasmeta, pembina dari komunitas ini.

Dalam komunitas ini para pengemudinya hanya dilatih untuk menjadi pengemudi ojek online dalam kategori kurir antar jemput saja. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kesalahan dalam berkomunikasi langsung dengan para pelanggan.

Tak hanya penyandang tunarungu, komunitas ESF juga memberdayakan penyandang tunadaksa seperti Eko Saiful Nur Amin. Pengemudi ojek online yang hanya memiliki satu tangan, yaitu tangan kiri ini bergabung dengan ESF pada tahun 2018. Ia kehilangan tangan kanannya karena kecelakaan saat menghindari sepeda motor pada tahun 2017.

Ketika mengendarai motor, Eko Motor menggunakan tuas gas yang telah dimodifikasi. Tuas gas yang sebelumnya berada di sebelah kanan, dipindah ke sebelah kiri untuk mempermudahnya dalam mengemudi dan mengontrol laju kecepatan motor menggunakan tangan kiri.

“Kita seperti ini masih ada yang lebih dan masih ada yang kurang. Jadi kita disini ya belajar bersyukurlah. Kita seperti ini ya alhamdulillah bisa bertemu dengan teman-teman yang lebih pintar dari kita atau yang lebih kurang dari kita. Jadi kita disitu belajar bagaimana caranya bisa seperti mereka. Gimana kekurangan kita bisa jadi motivasinya dia. Dan kelebihan dia bisa buat motivasi kita. Saling memberikan motivasi dan semangat buat teman-teman semua,” imbuh Eko.