“Kota yang paling bersinar pada malam hari di pantai Sumatra”. Inilah makna dari julukan Bagansiapiapi dari serapan Bahasa Belanda yang diberikan oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1935 karena Bagansiapiapi termasuk kota metropolitan pada zamannya.
Jejak toleransi terlihat dari gotong-royong komunitas etnis Tionghoa dalam memberikan kejayaan komoditas garam dan juga pusat pelayaran bisnis. Sebanyak 27 perkumpulan Marga tergabung dalam Yayasan Multi Marga untuk memperkuat tolerasi melalui kesenian tradisional Tionghoa yang dapat diterima oleh seluruh elemen masyarakat Bagansiapiapi.
Kesenian Genderang dan festival lampion juga menjadi pusat perhatian bagi warga Bagansiapiapi. Tak hanya melestarikan kesenian, tetapi sebagai simbol kesejahteraan, ketenaran, dan kemakmuran. Menghormati leluhur adalah salah satu upaya untuk melestarikan tradisi. Bagansiapiapi merekam bukti toleransi sebagai simbol keberagaman Indonesia.
Kenangan akan Imlek di kampung halaman tercermin di Bagansiapiapi, kota dengan berbagai kultur budaya. Menjelang imlek, masyarakat setempat serempak memasang lampion di sepanjang jalan. Di sini, lampion menjadi simbol keteladanan yang terus diwariskan sejalan dengan nyala toleransi yang terus dikobarkan.

