Penulis: Grace Kolin

Hubungan yang nyaman dan bahagia adalah idaman setiap pasangan. Namun apa jadinya jika hubungan yang dijalani tidak lagi berada dalam kondisi yang sehat? Psikolog Ayoe Sutomo dalam program Bincang Sehati DAAI TV menjelaskan ada dua indikator yang menandakan sehat tidaknya suatu hubungan. Yang pertama adalah bagaimana interaksi yang terjadi dalam relasi tersebut dan yang kedua adalah apa yang dirasakan individu pada saat berada di dalam relasi tersebut.

Individu yang terjebak dalam relasi yang tidak sehat cenderung merasa tidak bahagia, takut, tertekan, hingga tidak nyaman. Biasanya relasi yang tidak sehat juga akan diwarnai dengan kritik yang cenderung menjatuhkan, perilaku defensif (tidak mau mengakui kesalahan) dan stonewalling (penolakan untuk berkomunikasi atau bekerja sama) atas konflik yang ada dalam relasi, sehingga konflik yang dihadapi tak kunjung usai. “Dan ketika masalah itu tidak solved  (terselesaikan), itu bisa bergulung menjadi satu masalah yang bertumpuk besar seperti bola salju yang ujung-ujungnya ada pihak yang tidak puas dalam relasi ini,” ujar Ayoe.

Sebaiknya Akhiri atau Pertahankan Saja?

Perpisahan tidak selamanya menjadi jalan pamungkas dalam menghadapi hubungan yang tidak sehat. Menurut Ayoe, sebetulnya masih ada harapan untuk memperbaiki hubungan yang tidak sehat, asalkan kedua belah pihak mau terlibat. Sepanjang kedua belah pihak memiliki itikad baik dan komitmen yang kuat untuk memperbaiki relasi tersebut, maka relasi tersebut masih sangat mungkin untuk dipertahankan.

Namun ketika salah satu pihak tidak mau bekerjasama dengan baik untuk berkontribusi dalam memperbaiki relasi tersebut, maka relasi tersebut masih bisa dipertahankan namun akan terasa berat karena hanya ditanggung upayanya oleh satu pihak saja. “Artinya, pihak yang satu ini harus meninggikan ambang toleransi terhadap hal-hal yang mungkin dirasa tidak nyaman untuk dia. Nah pertanyaannya, seberapa tinggi, seberapa kuat, seberapa mampu untuk terus meningkatkan ambang toleransi tersebut. Nah coba dipikirkan,” katanya.

“Kesadarannya adalah kita adalah individu yang berharga, yang patut untuk mendapatkan kasih sayang dan patut untuk mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari apa yang dilakukan orang-orang yang kita rasa atau yang kita pikir bahwa kok nyakitin saya terus-terusan ya?”

Ayoe Sutomo

Psikolog