Ilustrasi: Nasi uduk yang disajikan dengan berbagai macam lauk-pauk (Foto/Canva). Ilustrasi: Nasi uduk yang disajikan dengan berbagai macam lauk-pauk (Foto/Canva).

Bagi masyarakat Indonesia, sarapan menjadi salah satu kegiatan yang wajib dilakukan sebelum memulai aktivitas sehari-hari. 

Namun, sebagian masyarakat merasa belum kenyang jika tidak sarapan nasi. Kebiasaan makan nasi ini pun dimanfaatkan para pedagang  yang menjual menu sarapan dengan bahan utama nasi.

Salah satu menu sarapan berbahan dasar nasi yang terkenal adalah nasi uduk dan nasi ulam. Dua menu ini merupakan makanan khas suku Betawi yang menjadi incaran para pemburu kuliner di pagi hari.

Sekilas, kedua menu ini memang terlihat mirip, namun dari segi rasa dan bahan dasar, nasi uduk dan nasi ulam sangatlah jauh berbeda. Yuk, simak sejarah menarik mengenai nasi uduk dan nasi ulam berikut ini.

Nasi Uduk Sudah Ada Sejak Ratusan Tahun yang Lalu

Tahukah kamu jika nasi uduk sidah ada sejak ratusan tahun yang lalu? Makanan ini  sudah hadir sejak abad ke-14 sampai abad ke-16  yang masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan.

Nasi uduk merupakan hasil dari persilangan dua budaya kuliner, yakni masakan khas Melayu dan Jawa. Bangsa Melayu melakukan perpindahan dari Malaka ke Batavia dengan membawa nasi lemak. Kemudian di Batavia, orang Melayu bertemu dengan orang Jawa yang sudah biasa menyantap nasi gurih.

Perpaduan nasi lemak dan nasi gurih ini lah yang menjadi cikal bakal terbentuknya menu nasi uduk yang erat dengan kuliner khas suku Betawi.

Ada beberapa pendapat mengenai arti dari nasi uduk, ada yang menyebutkan bahwa kata uduk berasal dari bahasa Sunda yang artinya bercampur.

Sedangkan pendapat lain mengatakan, uduk memiliki arti susah karena nasi uduk dahulu dimakan oleh masyarakat menengah ke bawah. 

Makanan ini terbuat dari bahan dasar nasi putih yang diaron dan dikukus dengan santan, serta dibumbui dengan pala, kayu manis, jahe, daun serai dan merica. 

Nasi uduk biasa dihidangkan dengan orek tempe, bihun goreng, emping,  bawang goreng, mentimun, dan sambal kacang. 

Selain banyak ditemukan di Jakarta, nasi uduk banyak dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia Selatan, seperti pulau Jawa. Nasi usuk biasanya dijual di pagi hari untuk sarapan, sedangkan pada malam hari, biasanya nasi uduk dijual di pinggir jalan raya.

Nasi Ulam, Kuliner Khas Betawi yang Mulai Hilang di Jakarta

Selain nasi uduk, masyarakat Betawi juga punya kuliner andalan lain, yaitu Nasi Ulam. Perbedaan antara nasi uduk dan nasi ulam terdapat pada bumbunya.

Kalau nasi uduk dimasak dengan santan, nasi ulam dimasak tanpa menggunakan santan dengan ciri khas taburan serundeng kelapa dan kacang tanah.

Nasi ulam disajikan dengan dua cara, yaitu nasi ulam kering yang  disajikan dengan tambahan taburan kacang hijau mentah yang direndam semalaman dan nasi ulam basah yang memakai guyuran kuah semur. 

Nasinya pun cenderung berwarna coklat, mirip dengan nasi briyani atau nasi kebuli khas Timur Tengah.

Lauk pendampingnya pun beragam, mulai dari bihun goreng, tempe, tahu, perkedel, kentang, irisan kacang tanah, dan tentu saja kuah semur, serundeng, dan kacang tanah.

Dilansir Encyclopedia Jakarta, seorang pedagang nasi ulam di daerah Petak Sembilan mengatakan bahwa nasi ulam sebenarnya merupakan masakan khas Tangerang.

Awalnya para pedagang nasi ulam mendorong gerobaknya dari Tangerang menuju Glodok kemudian menjualnya di kalangan peranakan Indonesia dan Tionghoa. 

Dahulu nasi ulam selalu hadir dalam acara hajatan di daerah Kampung Melayu, namun sekarang agak sulit mencari pedagang nasi ulam.

Nasi ulam pun kalah populer dari nasi uduk yang dapat dengan mudah ditemukan di tiap sudut Kota Jakarta.

NR

Saksikan Video Terkait :