Sumber gambar : Canva Pro
Penulis : Grace Kolin
Tragedi Itaewon dan Kanjuruhan yang terjadi di bulan Oktober 2022 menjadi kabar yang memilukan bagi dunia. Tidak ada yang menyangka jika euforia yang dialami massa sekejap berubah jadi tragedi maut yang merenggut banyak korban jiwa. Ini menjadi pertanyaan, bagaimana sebuah kerumunan dapat menjadi begitu mematikan?
G. Keith Still, Profesor tamu Ilmu Kerumunan di University of Suffolk di Inggris memberikan beberapa penjelasan terkait bahaya terjebak di dalam kerumunan. Menurutnya, saat terjadi lonjakan massa, tekanan yang datang dari sisi atas dan bawah akan membuat orang yang terjebak dalam kerumunan kesulitan untuk bernapas, ini dikarenakan, idealnya paru-paru manusia membutuhkan ruang untuk mengembang.
Enam menit setelah mengalami kesulitan bernapas, orang tersebut dapat terserang asfiksia (gagal napas) kompresif atau restriktif. Kemungkinan, kondisi inilah yang menjadi penyebab kematian seseorang dalam kerumunan, ujar Still.
Orang-orang juga dapat mengalami luka-luka pada kaki dan bahkan kehilangan kesadaran saat mereka berjuang untuk bernapas dan menyelamatkan diri dari kerumunan. “Dibutuhkan sekitar 30 detik kompresi untuk membatasi aliran darah ke otak dan orang-orang yang berada di keramaian menjadi pusing,” kata Still.
Untuk menyelamatkan diri dari kerumunan massa, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan menurut selebgram sekaligus dokter spesialis unit gawat darurat, Dokter J Mack Slaughter:
- Angkat kedua tangan layaknya petinju yang sedang bertahan. Letakkan tangan di daerah dada agar dada memiliki ruang untuk bernapas.
- Usahakan untuk terus berdiri. Jika terjatuh, cobalah untuk berdiri kembali dengan cara menginjakkan satu kaki terlebih dahulu.
- Jangan panik dan melawan arus kerumunan.
- Saat terjebak di kerumunan, usahakan untuk menghindari pusat keramaian yang menjadi titik dimana akan banyak orang yang tergencet.

