Ilustrasi: Sebelum adanya pewarna sintetis, orang-orang zaman dulu menggunakan pewarna alami yang berasal dari alam untuk mengolah warna-warna kain batik.(Foto/Canva) Ilustrasi: Sebelum adanya pewarna sintetis, orang-orang zaman dulu menggunakan pewarna alami yang berasal dari alam untuk mengolah warna-warna kain batik.(Foto/Canva)

Sejak zaman dahulu, batik telah menjadi warisan budaya Indonesia yang patut dibanggakan. Tidak hanya memiliki corak dan motif yang unik. Batik juga memiliki makna dan filosofi tersendiri.

Sebelum adanya pewarna sintetis, orang-orang zaman dulu menggunakan pewarna alami yang berasal dari alam untuk mengolah warna-warna kain batik.

Tradisi masa lalu ini adalah bukti bahwa manusia dapat menyatu dengan alam dengan memanfaatkan berbagai macam tumbuhan di sekitarnya. 

Lebih uniknya lagi, sumber pewarna alami batik terkadang sangat mudah didapatkan. Namun proses tersebut tidak mudah. Butuh kesabaran, tenaga, dan waktu untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

Lalu Bagaimana Caranya Menyelamatkan Lingkungan Dengan Pewarna Alami?

Selain tradisional, membatik dengan pewarna alami dapat digunakan untuk mengurangi limbah tekstil yang dapat mencemari lingkungan.

Hal tersebut diceritakan pengrajin asal Tangerang, Sancaya Rini, dalam program DAAI Mandarin. Prihatin melihat limbah tekstil lokal yang mencemari lingkungan setempat, ia menyosialisasikan membatik dengan pewarna alami kepada anak muda. 

“Limbah pewarna alami batik tidak merusak lingkungan. Sisa bahan padat pewarna alami dapat dibuang di bawah pohon untuk dijadikan pupuk kompos sehingga zero waste. Bahan baku diambil dari alam dan kembali ke alam.”

Pewarna alami miliknya dinamakan Kana Goods. Untuk menarik minat konsumen, Kana Good turut memproduksi batak berwarna biru indigo agar terlihat elegan dan istimewa. Ia juga berkolaborasi dengan brand lokal untuk mengembangkan Kana Goods.

Proses pengerjaan batik memerlukan waktu hingga empat hari dengan proses pencelupan minimal delapan kali. Walaupun proses pembuatannya sulit, hal ini sepadan karena tidak mencemari lingkungan.

Menciptakan produk alami yang ramah lingkungan dapat menjadi aksi nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Menjual batik dengan pewarna alami dilakukan Rini bukan untuk keuntungan semata, tetapi meningkatkan minat anak muda Indonesia terhadap batik.

Diharapkan produk lokal yang ramah lingkungan dapat mengenalkan kembali budaya tradisional kepada masyarakat.

NR
  • Referensi

    Sejak zaman dahulu, batik telah menjadi warisan budaya Indonesia yang patut dibanggakan. Tidak hanya memiliki corak dan motif yang unik. Batik juga memiliki makna dan filosofi tersendiri.

    Sebelum adanya pewarna sintetis, orang-orang zaman dulu menggunakan pewarna alami yang berasal dari alam untuk mengolah warna-warna kain batik.

    Tradisi masa lalu ini adalah bukti bahwa manusia dapat menyatu dengan alam dengan memanfaatkan berbagai macam tumbuhan di sekitarnya. 

    Lebih uniknya lagi, sumber pewarna alami batik terkadang sangat mudah didapatkan. Namun proses tersebut tidak mudah. Butuh kesabaran, tenaga, dan waktu untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

    Lalu Bagaimana Caranya Menyelamatkan Lingkungan Dengan Pewarna Alami?

    Selain tradisional, membatik dengan pewarna alami dapat digunakan untuk mengurangi limbah tekstil yang dapat mencemari lingkungan.

    Hal tersebut diceritakan pengrajin asal Tangerang, Sancaya Rini, dalam program DAAI Mandarin. Prihatin melihat limbah tekstil lokal yang mencemari lingkungan setempat, ia menyosialisasikan membatik dengan pewarna alami kepada anak muda. 

    “Limbah pewarna alami batik tidak merusak lingkungan. Sisa bahan padat pewarna alami dapat dibuang di bawah pohon untuk dijadikan pupuk kompos sehingga zero waste. Bahan baku diambil dari alam dan kembali ke alam.”

    Pewarna alami miliknya dinamakan Kana Goods. Untuk menarik minat konsumen, Kana Good turut memproduksi batak berwarna biru indigo agar telihat elegan dan istimewa. Ia juga berkolaburasi dengan brand lokal untuk mengembangkan Kana Goods.

    Proses pengerjaan batik memeperlukan waktu hingga empat hari dengan proses pencelupan minimal delapan kali. Walaupun proses pembuatannya sulit, hal ini sepadan karena tidak mencemari lingkungan.

    Menciptakan produk alami yang ramah lingkungan dapat menjadi aksi nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan.

    Menjual batik dengan pewarna alami dilakukan Rini bukan untuk keuntungan semata, tetapi meningkatkan minat anak muda Indonesia terhadap batik.

    Diharapkan produk lokal yang ramah lingkungan dapat mengenalkan kembali budaya tradisional kepada masyarakat.

Saksikan Video Terkait :