Sumber : Independensi

Sumber Gambar : Canva Pro

Penulis : Grace Kolin

Hari Bumi jatuh pada tanggal 22 April setiap tahunnya. Peringatan Hari Bumi bertujuan untuk meningkatkan kesadaran terhadap bumi yang ditinggali manusia, termasuk melindungi lingkungannya. Sebagai salah satu penghuni Bumi, ada satu fakta yang perlu diketahui manusia  tentang siapakah penghasil oksigen terbesar di Bumi? Jawabannya tentu akan tertuju pada hutan, karena hutan sering dikaitkan dengan jargon “Hutan adalah Paru-Paru Dunia”.

Jargon ini menyoroti hutan dengan pohonnya yang berfungsi untuk menyerap karbondioksida dan menggantinya dengan oksigen. Namun, mengutip unggahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau LHK, tumbuhan (pohon) hanya berkontribusi menghasilkan oksigen sekitar 20 persen saja. Lantas, siapakah penyumbang oksigen terbesar di Bumi?

Penyumbang oksigen terbesar di Bumi ternyata adalah makhluk kecil atau mikro-organisme kecil lautan bernama fitoplankton. Mereka mampu menghasilkan sekitar 50-85 persen oksigen di Bumi per tahun. Jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan tumbuhan (pohon). Fitoplankton menghasilkan oksigen dengan melakukan fotosintesis. Selain menghasilkan oksigen, fitoplankton juga mengikat karbon dari atmosfer dan menyimpannya jauh di dalam lautan. Untuk diketahui, karbondioksida merupakan salah satu komponen gas rumah kaca yang dapat mendorong perubahan iklim. Artinya, plankton juga berjasa dalam menekan perubahan iklim.

Wilayah bumi yang terdiri dari sebagian besar lautan, ini membuat populasi fitoplankton terbilang cukup banyak. Namun, pertumbuhan fitoplankton juga dapat berubah-ubah tergantung musim dan dipengaruhi oleh nutrisi air, suhu, serta faktor lainnya. Fitoplankton dapat tumbuh begitu pesat ketika musim semi, yaitu ketika ketersediaan nutrisi dan cahaya matahari berlimpah.

Meskipun populasi fitoplankton sangat banyak dan mampu menghasilkan oksigen yang besar, bukan berarti keberadaannya tidak terancam. Habitat fitoplankton, yaitu lautan sendiri tengah menghadapi persoalan sampah plastik. Dilansir dari ekuatorial.com, sampah plastik justru menghambat pertumbuhan fitoplankton karena sampah yang di laut menutupi cahaya matahari, sementara fitoplankton membutuhkan cahaya matahari untuk tumbuh dan berkembang.

Keberadaan sampah plastik di lautan menjadi tanda bahaya bagi mikro-organisme penghasil oksigen terbesar di Bumi ini. Menurut kajian yang disusun Dr Costas Velis dari Universitas Leeds, sampah plastik sebanyak 1,3 miliar ton diperkirakan akan mencemari daratan dan lautan dunia pada 2040 mendatang. Kajian yang mencengangkan ini ini tentu menjadi pengingat bahwa lautan dan seisinya juga merupakan bagian dari Bumi yang harus dijaga dan tidak boleh dilupakan.

Artikel ini dibuat dari berbagai sumber