Penulis : Grace Kolin
Seni tekstil memiliki jenis yang beragam. Mulai dari batik, tenun embroidery art dan masih banyak lagi. Di antara ragam seni tekstil, embroidery art memiliki daya tarik tersendiri. Seni tekstil ini juga dikenal juga dengan kriya bordir. Kriya bordir merupakan kriya yang menempatkan hiasan-hiasan dari benang yang dijahitkan pada kain dan diletakkan pada ujung jahitan untuk menghias atau mempercantik tampilan.
“Jadi embroidery art ini adalah seni menciptakan karya menggunakan benang. Bisa jadi benang apa aja, benang sulaman, benang jahit, benang wol, dan menciptakan karya-karya seperti lukisan mungkin, ataupun produk-produk yang bisa dijual dan dipakai untuk sehari-hari,” ujar Stacy Andani, salah seorang pegiat embroidery art.
Embroidery art terbagi atas dua jenis, yakni manual dengan menggunakan tangan, dan juga ada yang menggunakan mesin. Embroidery manual memiliki keunggulan dibandingkan dengan embroidery mesin dari segi keluwesan dalam pembuatannya. Sebab pencipta karya embroidery yang menggunakan sistem manual dapat menciptakan karya yang lebih hidup dibandingkan dengan menggunakan mesin. Hasil embroidery art yang menggunakan mesin juga akan terasa lebih flat karena terbatasnya benang yang dipakai.
“Untuk sulaman embroidery ini menggunakan benang di bidang kain, dan kita menggunakan tools seperti pembidang untuk mengikat kain tersebut. Tapi untuk rajutan sendiri kita menggunakan cantolan namanya hook, crochet hook, itu menggunakan benang membuat tekstil lagi, sebuah tekstil yang baru, jadi itu tekniknya saja sudah sangat berbeda. Cuman untuk basic paling dasar, embroidery ini seperti menjahit seperti biasa. Tapi menggunakan tangan,” kata Stacy.
Pada suatu kesempatan, Stacy memperkenalkan embroidery art kepada belasan anak perempuan di Yayasan Wisma Remaja Indonesia. Para peserta dengan penuh kesabaran mengikuti proses embroidery art, setahap demi setahap.
Kegiatan ini mengundang rasa antusias bagi para peserta dari yayasan ini. Maylissa contohnya, remaja berusia 17 tahun ini baru pertama kali merasakan bagaimana cara menyulam dengan menggunakan metode embroidery. Ia merasa puas dengan hasil yang ia buat karena dapat memupuk konsentrasinya secara khusus. “Saya belajar kerajinan tangan, melatih otak, terus melatih konsentrasi juga, sama melatih kesabaran sih yang paling utama,” imbuh Maylissa Roselind. Setelah mengikuti kegiatan positif ini, pikiran Maylissa tidak hanya tertuju pada gawai saja, namun ia juga dapat melatih diri untuk lebih kreatif lagi.

