Penulis : Grace Kolin
“Betapa bersyukurnya aku, betapa bersyukurnya aku hidup. Jadi aku berharap banget. Berat banget. Apa ya, keberadaan aku bisa berguna buat orang lain,” ucap Diah Kusumawardani, founder Yayasan Belantara Budaya Indonesia (YBBI).
Yayasan ini memiliki program sosial berupa memberikan sekolah tari dan musik tradisional gratis untuk semua anak di Indonesia. Sejak didirikan pada tahun 2013 silam, kini Yayasan Belantara Budaya Indonesia telah memiliki 15 sekolah di lima daerah di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Cirebon dan NTT dengan jumlah siswa yang telah mencapai 5000 orang.
“Jadi awalnya saya mendirikan sekolah tari dan musik tradisional gratis untuk semua anak di Indonesia. Dan itu kenapa gratis, karena saya ingin banget anak Indonesia mengenal dan mencintai budaya dan tradisinya,” kata Diah.
Awalnya, tidak mudah bagi Diah untuk membesarkan yayasan yang menyandang misi mulia ini. “Saya mengawalinya tiga tahun, sendiri. Dengan uang sendiri. Jujur aja susah banget. Pernah juga hampir putus asa gitu,” cerita Diah sambil menahan tangis. Namun di saat ia ingin menyerah, tidak disangka Diah mendengar kata-kata yang menguatkan dirinya.
“Ada ibu-ibu bilang ke saya, Bu Diah, berkat Ibu Diah, anak saya jadi percaya diri. Anak saya yang disabilitas bisa tampil di Istana Negara. Anak saya berkebutuhan khusus bisa mengajarkan teman-temannya di SLB belajar tari tradisional. Disitu saya pikir, oke, saya gak boleh mundur. Terus saya usaha.”
Sepanjang perjalanan membangun yayasan ini, Diah juga banyak mendapat inspirasi dan motivasi dari sang ayah. Sejak kecil, ia diajari sang ayah untuk menjadi perempuan yang berhati baja. Sang ayah juga berpesan padanya bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah ketika ia dapat memberikan berkah bagi orang lain. Pesan ini juga turut menguatkannya kala ia sedang mencoba untuk mempertahankan yayasan ini. “Mbak, kamu gausah takut miskin. Segala apapun kebaikan yang kau pikirkan. Semesta akan mendukung gitu. Kamu tidak akan miskin kalau kamu memberi, cukup bilang cukup sama diri kamu sendiri. Kamu bisa melampaui itu semua,” ucap Diah sambil mengenang kata-kata dari sang ayah yang kini telah tiada.
Setelah tiga tahun berjalan dan tampil di berbagai kegiatan, YBBI mendapat sorotan dari berbagai media. Beberapa orang dan perusahaan pun ikut tergerak dalam mendukung misi YBBI. “Sampai sekarang sudah lumayan cukup berdiri tapi belum bisa dibilang memadai. Tapi ya bisa berjalan aja, buat aku udah bersyukur banget,” kata Diah.
Sekolah tari dan musik tradisional gratis dari yayasan ini terbuka untuk siswa dari berbagai latar belakang. Termasuk siswa dengan kebutuhan khusus. Ayu adalah salah satu ABK yang mengikuti sekolah gratis ini. Kini ia tidak hanya mahir menarikan tari tradisional, namun juga mengajarkan tari tradisional kepada teman-temannya di SLB. Ibu Ayu, Ati, sangat senang dengan perkembangan yang dialami oleh anaknya semenjak belajar di sekolah gratis ini. “Ya Alhamdulillah dia udah baguslah perkembangannya. Ga minder lagi dia, dia percaya diri,” ujar Ati.
Diah ingin agar semua anak Indonesia bisa mengenal budayanya. Ia juga berharap anak Indonesia bisa memiliki kesempatan untuk tampil menunjukan potensinya. Sampai sekarang, sekolah tari dan musik tradisional gratis dari YBBI telah berhasil mengantarkan para siswanya untuk tampil di berbagai panggung internasional, seperti panggung internasional di New York Fasion Week, Kanada dan Irlandia.

