Sumber : Independensi

Sumber Gambar : Bumiku Satu DAAI TV

Penulis : Grace Kolin

“Orang-orang tu pada bingung, kenapa sih si Angga bisa berkebun? Dulu padahal mah yang paling semangat minum. Kalau belum mabuk, belum pulang. Sekarang, bangun pagi berkebun,” cerita Angga Diandry, seorang petani milenial ketika mengenang masa lalunya.

Ketertarikan Angga menjadi petani, bukan karena tanpa sebab. Semuanya berawal saat ia kehilangan pekerjaan pada akhir 2017. Semenjak saat itu, Ia pun berinisiatif memanfaatkankan barang bekas dan menggunakannya sebagai wadah eskperimen menanam kangkung di garasi rumahnya.

Namun, eksperimennya itu tidak berhasil, karena tanaman kangkungnya disantap oleh tikus ketika baru mulai bertumbuh. Angga pun sempat pupus harapan dalam berkebun. Berselang beberapa tahun kemudian, semangat Angga dalam berkebun mulai tumbuh kembali. Keseriusannya mendalami dunia pertanian dimulai sejak pandemi pada tahun 2020, dimana pada masa pandemi dirinya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

Dengan memanfaatkan lahan rooftop seluas 8×12 meter di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, bisnis manager Pandji Pragiwaksono ini menanam berbagai jenis sayur untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selebihnya dipasarkan ke masyarakat.

“Dari hidroponik, saya belajar untuk bersabar. Karena balik lagi ya. Walaupun hidroponik itu tumbuhnya cepat, tapi tetap ada proses yang kita gak bisa khianati gitu. Ada yang dimana mereka mesti bertumbuh begitu. Dari mereka benih, bibit, remaja, dewasa gitu kan. Habis itu kita panen. Jadi itu selalu mengingatkan saya bahwa pentingnya proses,” ucap pendiri usaha Kebun Atap Hidroponik ibukita ini.

Dalam mengelola bisnis hidroponik, Angga menggunakan kemasan yang ramah lingkungan dalam mengirim sayurannya kepada konsumen. Ia menghindari penggunaan plastik dan menggantinya dengan kardus dan alas berupa daun pisang. “Konon, katanya ketika saya baca-baca di Internet, bisa menjaga suhunya juga gitu. Masuk ke dalam kardus, dibawahnya ditaruh dulu daun pisang, semprot-semprot dengan air biasa biar dia agak sedikit basah. Supaya pas pengiriman sayurnya tidak kepanasan. Terus habis itu, di atasnya dilapisi lagi dengan daun pisang, baru ditutup,” jelas Angga. Tak sekedar menanam, ia juga rutin bercerita di media sosial tentang pengalamannya berkebun, sehingga menarik perhatian kaum muda pada dunia pertanian.

Video Terkait