Cirebon, kota toleransi di Indonesia.

Penulis : Grace Kolin

“Perbedaan itu bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, harus dibeda-bedakan. Jadi kalau ada yang mengatakan kalau perbedaan itu adalah rahmat dari Allah, rahmat dari Tuhan, maka Cirebon membuktikannya itu dengan keanekaragaman karya budaya, mahakarya dan yang lainnya itu datang dari kontribusi semua masyarakatnya.” Akbarudin Sucipto (Budayawan Cirebon).

Siapa sangka, nama kota Cirebon memiliki asal-usul dan filosofi unik dibaliknya. Hal ini diterangkan dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari. Dimana dalam naskah tersebut tertulis asal mula kata Cirebon adalah “Sarumban” yang kemudian mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”. Kata Caruban sendiri berarti campuran.

Kata Caruban sangat serasi jika disandingkan dengan masyarakat Cirebon yang heterogen dari segi suku dan agama. Di kota ini, perbedaan semacam itu tidak  menjadi sekat, melainkan malah justru menjadi perekat yang membuat masyarakatnya semakin guyub.

Salah satu potret harmonis masyarakat Cirebon terlihat pada hubungan masyarakat etnis Tionghoa dengan warga di sekitarnya. Hubungan ini telah lama terjalin jauh sebelum masa penjajahan Belanda di Indonesia.

Hubungan ini dan melahirkan jejak akulturasi yang masih ada hingga kini.  Misalnya dalam lingkup keraton, ada motif ukiran megamendung hingga wadasan yang mendapat pengaruh kebudayaan Tiongkok pada kereta kencana raja, Paksi Nagaliman dan kereta permasuri, Jempana. Kedua motif  tersebut kemudian diimplementasikan pada seni rupa batik khas Cirebon.

Selain itu motif ukiran megamendung dan wadasan, masih banyak lagi produk akulturasi masyarakat etnis Tionghoa dengan masyarakat setempat yang membuat kita berdecak kagum. Semuanya dapat disaksikan salah satu episode Jelajah Budaya Tionghoa Nusantara (program dokumenter DAAI TV) berjudul “Harmoni Caruban Nagari”. Episode ini telah tersedia secara eksklusif di DAAI+, layanan video on demand DAAI TV.